Sunday, May 17, 2009

Relativisme dan Tipu Daya Setan

Taken by Syofian Hadi from Majalah Islam Ar-Risalah

RELATIVISME DAN TIPU DAYA SETAN
Oleh: Adian Husaini


Pada 22 Maret 2009, pada sebuah seminar, saya mengedarkan serangkaian daftar pertanyaan kepada guru-guru sebuah sekolah Islam di Jawa Tengah. Para guru cukup menjawab SETUJU atau TIDAK SETUJU. Salah satu pertanyaan berbunyi sebagai berikut:

“Manusia adalah makhluk yang relatif, sedangkan Tuhan adalah Yang Maha Mutlak. Karena itu, setiap pendapat manusia adalah relative, sehingga tidak boleh memutlakkan pendapatnya. Jadi, hanya Tuhan yang tahu akan kebenaran yang hakiki. Manusia tidak tahu dengan pasti suatu kebenaran, sehingga tidak boleh merasa benar sendiri dan menghakimi orang lain sebagai sesat atau kafir. Masalah sesat atau kafir adalah urusan Allah, dan serahkan saja kepada Allah.

Dari 65 jawaban yang masuk, ada 53 guru (81,5%) menjawab SETUJU, dan 12 guru (18,5%) menjawab TIDAK SETUJU. Artinya, ada 80 persen lebih guru-guru sebuah sekolah Islam yang setuju dengan paham Relativisme. Padahal, paham ini sangat berbahaya bagi sebuah keyakinan. Paham relativisme telah melanda dunia pendidikan Barat dan kemudian diglobalkan ke berbagai belahan dunia.

Seorang penyair terkenal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal, yang hidup pada tahun 1940-an, sampai mengingatkan umat Islam dalam sebuah puisinya, Bal-e-Jibril, bahwa pendidikan Barat modern membawa dampak terhadap hilangnya keyakinan kaum muda Muslim terhadap agamanya. Padahal, menurut Iqbal, keyakinan adalah aset yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia., maka itu lebih buruk ketimbang perbudakan.

Relativisme biasanya didefinisikan sebagai doktrin dimana ilmu, kebenaran, dan moralitas yang berlaku selalu terkait dengan budaya, sosial, dan konteks sejarah, dan tidak bersifat absolut. Jadi, jika dikatakan, bahwa kebenaran adalah relatif, maka artinya, kebenaran itu hanya berlaku temporal, personal, parsial, atau terkait dengan budaya tertentu. Tidak ada kebenaran abadi atau kebenaran bersama.

Contohnya, kebenaran Islam dianggap hanya berlaku untuk orang Islam saja. Kebenaran Kristen juga hanya untuk orang Kristen dan sebagainya. Apakah zina itu buruk? Penganut relativisme moral akan mengatakan, bahwa itu tergantung pada konteks budaya atau situasi tertentu. Maka, bagi orang Barat sekular, kejahatan zina tidak berlaku mutlak. Jika zina dilakukan suka sama suka, dan sama-sama dewasa, maka itu bukan tindak kejahatan. Jika zina dilakukan dengan anak-aanak barulah dikatakan sebagai kejahatan.

Adalah sangat fatal jika seseorang sampai menyatakan, bahwa “saya tidak tahu kebenaran” dan “saya tidak tahu dia sesat atau tidak”. Sebab, seorang Muslim setiap hari berdoa: “Ya Allah tunjukkanlah aku jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri kenikmatan, dan bukannya jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat!”

Banyak juga yang berdoa: “Ya Allah tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya; dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang bathil itu bathil dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk menjauhinya”.

Jika seorang berdoa seperti itu, bukankah sangat aneh, jika kemudian dia mengataan bahwa “yang tahu kebenaran hanya Allah!”, lalu untuk apa dia berdoa? Untuk apa dia diberi akal untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Untuk apa Allah menurunkan wahyu yang salah satu fungsinya adalah sebagai “al-Furqan” yang membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Jika manusia tidak dapat memahami kebenaran, lalu untuk apa Allah memerintahkan agar manusia mengajak manusia kepada jalan Allah? (QS 16:125).

Maka, ujung dari pemahaman relativisme ini adalah sikap apatis terhadap kebenaran. Sikap bebal, sikap masa bodoh. Tidak peduli mana iman dan mana kufur, mana taauhid dan mana syirik. Tidak peduli mana haq dan mana bathil. Juga tidak peduli mana halal dan mana haram. Mana baik dan mana buruk. Manusia seperti ini tidak mungkin bisa diajak untuk beramar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab, dia akan menyatakan, bahwa “hanya Allah yang tahu kebenaran”.

Jadi, itulah bahaya virus relativisme kebenaran. Pertanyaan tersebut perlu dicermati dengan seksama. Apakah manusia bisa memahami kebenaran secara mutlak? Jawabnya tegas: Bisa! Tentu, kebenaran mutlak sebatas kemampuan manusia, sebab manusia memang tidak diciptakan Allah untuk bisa menandingi Allah. Justru, dalam batasan manusialah, Allah mengaruniai kemampuan akal untuk menerima kebenaran yang mutlak. Dari akal yang menerima kebenaran itulah lahir sebuah keyakinan. Maka, syarat iman adalah yakfur bitthagut, ingkar kepada thaghut. Iman mensyaratkan yakin, dan tidak ada keraguan.

Kaum Muslim saat ini perlu terus mewaspadai berbagai upaya penyesatan dengan berbagai cara. Sebab, Allah sudah mengingatkan dalam al-Quran, bahwa setan dari jenis manusia dan jin akan selalu berusaha menyesatkan manusia. Caranya, dengan menyebarkan kata-kata indah dengan tujuan untuk menipu (zukhrufal qauli ghuruura). (QS 6:112)

Paham relativisme iman dan relativisme kebenaran bisa dikatakan sebagai salah satu contoh bentuk tipudaya setan. Kini, banyak buku-buku kaum liberal yang mengajarkan paham relativisme iman, dimana setiap pemeluk agama dilarang untuk meyakini kebenaran agamanya sendiri. Ada sebuah buku karya Prof. Abdul Munir Mulkhan, guru besar di UIN Yogyakarta, berjudul “Kesalehan Multikultural” (2005) yang isinya banyak menggugat keyakinan umat Islam atas agamaya sendiri.

Sebagai ganti dari pendidikan Tauhid, dia mengajukan gagasan ‘Pendidikan Islam Multikultural’. Munir menulis: “Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan tauhid yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji ulang dan dikembangkan lebih substantive. Dengan demikian diperoleh suatu rumusan bahwa Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang diyakini pemeluk Islam itu bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan ajaran-Nya serta kebenaran yang satu itu mungkin juga diperoleh pemeluk agama lain dan rumusan konseptual yang berbeda. Konsekuensi dari rumusan di atas ialah bahwa Tuhannya pemeluk agama lain, sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu pula sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk Islam.” (hal 182-183).

Profesor UIN Yogya itu juga menegaskan: “Surga dan penyelamatan Tuhan itu adalah surga dan penyelamatan bagi semua orang di semua zaman dalam beragam agama, beragam suku bangsa dan beragam paham keagamaan. Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa atau Yesus, Muhammad SAW, Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul agama-agama lain, mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah kemanusiaan. Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia menggunakan diri Tuhan itu untuk suatu maksud meniadakan manusia lain hanya karena berbeda pemahaman keagamaannya,” (hal 109).

Pendapat profesor tersebut jelas keliru, sebab masing-masing agama memiliki keyakinan yang khas. Islam yakin bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Kita, sebagai Muslim, yakin bahwa setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, maka semua manusia harusnya juga mengikuti ajaran dan perilaku utusan Allah tersebut. Tentu, sebuah kejahatan kepada Allah jika manusia menolak untuk mengikuti utusan-Nya. Jika mereka mengakui Tuhannya adalah Allah, maka konsekuensinya, mereka harus mengikuti utusan-Nya. Jika tidak, maka mereka disebut sebagai pembangkang atau kafir. Itu keyakinan kita sebagai Muslim, yang pasti, dan tidak bersifat relatif. (Depok, 28 Rabi’ulawwal 1430 H/25 Maret 2009)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda. Tolong tinggalkan alamat e-mail, blog atau website Anda.