Sunday, February 13, 2011

Tidur, Shubuh, Ashar.

-->
Written by Syofian Hadi

“tok..tok..tok…” sahabatku, Median, mengetuk pintu untuk membangunkanku dari tidur.

“tet tet.. toott…ting..tung..ting..troong..” dia mencoba miscall, tetap tak ada jawaban atau reaksi apa pun dariku, terus berharap aku terbangun.

Hal-hal di atas selalu dia lakukan saat adzan subuh berkumandang, agar kami bersama-sama memenuhi undangan untukk berjumpa dengan Allah di masjid, walau tidak jarang aku kalah, tidak terbangun.

Nah, sore kemarin aku tidak bekerja, stay in the room saja, baca-baca buku, dan tertidur. Adzan asar berkumandang. Handphone-ku pun berteriak membangunkanku, terlihat “Median calling” di layarnya. Mungkin, sebelumnya dia sudah mencoba mengetuk pintu kamarku.

Aku bangkit, dengan kepala yang sedikit pusing, kupaksakan melangkah menuju kamar mandi, sikat gigi dan berwudhu. Ketika keluar rumah, ohh…. rasanya tidak nyaman sekali; silau, matahari menyorot pedih mataku yang masih mengantuk, gerah, matahari serasa membakar kulit, panas sekali, udara terasa tak segar, berdebu. Tiba di masjid, aroma parfum menyengat. (biasanya aku suka aroma parfum, tapi entah mengapa sore itu aku terganggu). Aku hanya bisa beristighfar, supaya tidak sia-sia segala yang kulakukan. Mungkin, ini hanya perasaaanku saja, aku yang tak terbiasa (bangun tidur langsung ke luar rumah), mungkin aku yang tidak ikhlas karena kurang puas tidur, atau memang setan mengganggu.

Sepanjang jalan pulang dari masjid menuju ke rumah kost, aku berfikir; wah, bangun tidur untuk shalat Ashar kok ya sepertinya lebih sulit dari pada bangun tidur untuk shalat subuh.
Namun, aku yakin bahwa di balik itu semua pasti ada begitu banyak hikmah dan keutamaan. Ya, penasaran ingin tahu, kuambil handphone, browse google, dapat link ini http://naunganislami.wordpress.com/2009/08/10/keutamaan-sholat-shubuh-dan-ashar/ .
Cukup memotivasi. Check this out, guys!!
Keutamaan Sholat Shubuh Dan Ashar
Dari Abu Musa r.a. bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan sholat bardain – yakni sholat Subuh dan sholat Asar, maka ia akan masuk syurga.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Zuhairyaitu Umarah bin Ruwaibah ra., katanya: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang mengerjakan sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya,” yakni sholat Subuh dan sholat Asar. (Riwayat Muslim)

Dari Jundub bin Sufyan ra., katanya: ” Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan sholat Subuh, maka ia adalah dalam tanggungan Allah – yakni mengenai keselamatan dirinya dan Iain-Iain. Maka perhatikanlah, hai anak Adam – yakni manusia, janganlah sampai Allah itu menuntut kepadamu sesuatu dari tanggungannya.”
(Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., katanya: “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Berganti-gantilah untuk menyertai engkau semua beberapa malaikat di waktu malam dan beberapa malaikat di waktu siang. Mereka sama berkumpul dalam sholat Subuh dan sholat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam denganmu semua itu, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal sebenarnya Allah adalah lebih Maha Mengetahui tentang hal-ihwal hamba-hamba-Nya, tanyaNya: “Bagaimanakah engkau semua meninggalkan hamba-hambaKu?” lalu para malaikat itu menjawab: “Kita meninggalkan mereka dan mereka sedang melakukan sholat dan sewaktu kita mendatangi mereka itu, juga di waktu mereka melakukan sholat.”
(Muttafaq ‘alaih)

Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali ra., katanya: “Kita semua ada di sisi Rasulullah saw. Beliau saw lalu melihat bulan di malam bulan purnama – yakni tanggal empatbelas bulan hijriyah, kemudian beliau bersabda: “Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana engkau semua melihat bulan ini, tidak akan memperoleh kesukaran engkau semua dalam melihatNya itu. Maka jikalau engkau semua dapati tidak akan dialahkan oleh sholat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah itu,” maksudnya jangan sampai dialahkan oleh sesuatu hal sehingga tidak melakukan kedua sholat itu dan jelasnya ini adalah merupakan perintah wajib. (Muttafaq ‘alaih)

Dalam suatu riwayat disebutkan: “Beliau saw lalu melihat ke bulan pada malam bulan purnama itu – yakni bulan tanggal empat belas.”

Dari Buraidah ra., katanya: “Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan sholat Asar, maka leburlah -yakni rusaklah – amal kelakuannya.” (Riwayat Bukhari)

Diambil dari kitab Riyadhus Shalihin II

(Median, now it’s time for u to leave for Solo. O, Alloh.. it's too fast. it's too short. but havin' that short experience together with u is also expensive. Jazakumullah khoiron katsiron :-)

Friday, February 11, 2011

Inilah Khutbah Rasulullah Saat Pertama Kali Sholat Jumat

Sebagaimana dikisahkan dalam berbagai buku sejarah Rasulullah SAW, seperti Fikih Sirah, Sirah Nabawiyah, maupun Hayatu Muhammad karya Muhammad Husein Haykal, shalat Jumat pertama yang dilakukan Rasul SAW adalah di Wadi Ranuna, sekitar satu kilometer dari Masjid Quba, atau kurang lebih empat kilometer dari Madinah al-Munawwarah. Di sana kini berdiri sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jumat.

Tentu saja, dalam shalat Jumat itu diselenggarakan khutbah Jumat yang disampaikan Rasul SAW kepada kaum Muslim. Apa isi khutbah Rasul SAW pada saat itu? Hanafi al-Mahlawi dalam bukunya Al-Amakin al-Masyhurah Fi Hayati Muhammad (Tempat-tempat bersejarah yang dikunjungi Rasul SAW), isi khutbah itu adalah sebagai berikut;

"Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Dia telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya dan pelajaran, setelah lama tidak ada rasul yang diutus, minimnyua ilmu, dan banyaknya kesesatan pada manusia di kala zaman menjelang akhir dan ajal kian dekat.

Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk. Dan, barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.

Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyeru kepada ketakwaan kepada Allah.

Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat.

"Barang siapa yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah, baik di kala sendiri maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu tidak lain kecuali hanya mengharapkan rida Allah, maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar masanya menjadi lebih panjang. Allah memperingatkan kamu akan siksa-Nya. dan Allah Mahasayang kepada hamba-hamba-Nya." (QS Ali Imran [3]: 30).

Dialah Zat yang benar firman-Nya, melaksanakan janji-Nya, dan semua itu tidak pernah teringkari. Allah berfirman, "Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS Qaf [50]: 29).

Karenanya, bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan sekarang maupun yang akan datang, dalam kerahasiaan maupun terang-terangan. "Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." (QS At-Thalaq [65]: 5). "Barang siapa bertakwa kepada Allah, sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar." (QS Al-Ahzab [33]: 71).

Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah menghindarkan dari kemarahan, hukuman, dan murka-Nya. Takwa kepada Allah akan membuat wajah bersinar terang, membuat Allah rida, dan meninggikan derajat. Lakukanlah dengan sepenuh kemampuan kalian, dan jangan sampai kurang di sisi Allah.

Dia telah mengajarkan kepada kalian dalam kitab-Nya dan membentangkan jalan-Nya, untuk mengetahui siapa yang benar dan untuk mengetahui siapa yang dusta. (QS Al-Ankabut [29]: 3).

Maka, berbuat baiklah, sebagaimana Dia berbuat baik kepada kalian, dan musuhilah musuh-musuh-Nya. Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih dan menamakan kalian sebagai Muslim. (QS Al-Hajj [22]: 78). Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata. (QS Al-Anfal [8]: 42).

Tiada daya upaya, kecuali hanya dengan kekuatan Allah. Karenanya, perbanyaklah mengingat Allah, dan beramallah untuk kehidupan setelah mati. Sesungguhnya orang yang membangun hubungan baik dengan Allah, Allah pun akan membuat baik hubungan orang itu dengan manusia lainnya.

Karena Allah yang memberi ketetapan kepada manusia, sedang manusia tidak mampu memberi ketetapan kepada-Nya. Dia menguasai manusia, sedang manusia tidak bisa menguasai-Nya. Allah itu Maha Agung. Tiada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung."

Demikianlah isi khutbah Rasul SAW sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Thabari, Tafsir al-Qurthubi, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, dan Al-Bayan al-Muhammadi karya Dr Mustafa Asy-Sya'kah.

Asy-Sya'kah menegaskan bahwa khutbah diatas merupakan khutbah Rasul SAW saat shalat Jumat pertama di Wadi Ranuna. Penjelasan ini juga diperkuat dengan keterangan Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir. Wallahu A'lam.
(Taken from: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/10/12/139623-inilah-khutbah-rasulullah-saat-pertama-kali-sholat-jumat)

Thursday, February 10, 2011

Kedahsyatan Efek Senyum
Oleh: Wiyanto Suud

Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit. Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, "Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?"

Rasulullah SAW bersabda, "Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah." (HR Tirmizi dan Abu Dzar).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum itu ibadah, "Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah." (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi). Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, "Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW." (HR Tirmidzi).

Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan. Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu." (HR Muslim).

Mungkin kita sering berpikir bahwa sedekah itu berkaitan erat dengan harta benda seperti pemberian uang, pakaian, atau apa pun yang bisa langsung dinikmati penerima dalam bentuk materi. Hal itu juga mungkin yang ada dalam pikiran para sahabat Rasulullah SAW, sehingga mereka sangat gelisah kemudian mempertanyakannya.

Karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan satu hari pun berlalu tanpa dirinya terlibat dalam kegiatan bersedekah. Jika kita punya wawasan sempit mengenai pengertian bersedekah, tentulah hal itu menjadi mustahil.

Di antara keistimewaan sedekah adalah menolak bala (musibah). Dari Sayyid Ali Ar-Ridha, dari Sayyid Ja'far Ash-Shadiq, dari Sayyid Ali Zainal Abidin, dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhum, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sedekah itu dapat menghindarkan diri dari kematian yang tidak baik, menjaga diri dari tujuh puluh macam bencana."

Imam Ibnul Qoyyim RA dalam bukunya al-Wabil ash-Shayyib berkata, "Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai bencana, walaupun pelakunya orang yang Fajir (pendosa), zalim, atau bahkan orang kafir."

Copas from: http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/05/19/116169-kedahsyatan-efek-senyum