Thursday, March 15, 2012

BUKAN ILMU, HANYA CACI MAKI

Copied by Syofian Hadi from Ust. Ahmad Sarwat's facebook

Banyak orang berdebat tentang ada tidaknya bid'ah hasanah itu. Dan biasanya mereka terjebak dengan pengertian kata 'kullu bid'atin'. Apakah kata kullu itu artinya semua tanpa ada pengecualian, ataukah masih ada yang dikecualikan. Dan perdebatannya kadang ke level saling caci maki dan penghinaan, bahkan kadang anggota kebun binatang pun ikut-ikutan diabsen.

Sebenarnya perbedaan tentang adakah bid'ah hasanah itu bukan hal yang aneh. Biasa-biasa saja, tidak perlu harus sampai ribut dan keluar sifat kotor dan akhlaq yang kurang simpatik.

Kalau kita kembali melihat ke zaman salafunas-shalih, baik ulama yang mendukung adanya bid'ah hasanah atau yang tidak mendukung, ternyata kedua kubu tetap kompak dan damai-damai saja.

Kita tidak pernah mendengar Imam As-Syafi'i dicaci maki oleh Imam Abu Hanifah gara-gara beliau melakukan qunut pada shalat shubuh. Padahal Mazhab Hanafi tegas menyebutkan qunut shubuh itu bid'ah. Namun kita tidak pernah mendengar ulama mazhab Hanafi mentahdzir ulama mazhab Syafi'i, begitu juga sebaliknya.

Lalu apa urusan kita saling mentahdzir saudara sendiri? Apakah kita sudah jadi ulama yang sesungguhnya? Dimana posisi kita dari mereka?

Juga belum pernah ada satu pun ulama dari mazhab Hanafi yang bilang bahwa orang yang bermazhab syafi'i pasti masuk neraka, hanya gara-gara menjalankan bid'ah. Mazhab Hanafi hanya menyebut qunut shubuh itu bid'ah, dan bukan bid'ah hasanah.

Ulama mazhab Syafi'i pun tidak pernah mencaci para ulama mazhab Hanafi yang menikahkan janda tanpa orang tua mereka. Tidak ada kalimat yang merendahkan martabat keluar dari mulut suci para ulama di masa salaf itu.

Kata-kata yang kotor dan keji dalam bicara tentang bid'ah ini hanya terjadi di zaman 'salah' sekarang ini, dimana orang yang bukan ulama, tiba-tiba merasa sudah menjadi ulama besar, dan merasa berhak mencaci maki para ulama mulia di masa salaf.

Sayang sekali, apa yang disebut sebagai ilmu ternyata hanya sekedar caci maki kepada saudara seislam, bahkan caci maki kepada para ulama. Saya memandang lebih baik diam dan tinggalkan arena perdebatan yang hanya mendambah dosa dan menghilangkan pahala.

Naudzu billah ighfir lana ya rabb. . .