Jumat, 30 November 2012

Presiden Mohammad Mursi Menghadapi Nasionalis Sekuler

Copied and pasted by Syofian Hadi from http://m.voa-islam.com/news/opini/2012/11/27/21996/presiden-mohammad-mursi-menghadapi-nasionalis-sekuler/

Presiden Mohammad Mursi Menghadapi Nasionalis Sekuler

Jakarta (voa-islam.com) Mohammad Mursi, isterinya, dan lima anaknya hafal Qur'an. Dia tokoh puncak dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin. Pernah sekolah di Amerika dan mendapatkan gelar Phd dibidang science, dan pernah pula bekerja di NASA.

Kemudian, pulang ke Mesir, dan menjadi dosen di Universitas Zagazig. Mursi menjadi anggota parlemen, dan kemudian diangkat menjadi Ketua FJP (Partai Kebebasan dan Keadilan), yang menjadi sayap politik Jamaah Ikhwanul Muslimin. Sekarang Mursi menjadi simbol dikalangan Islamis Mesir, yang berhasil merengkuh kekuasaan.

Ketika, Khairat al-Shater, yang juga tokoh Jamaah Ikhwanul Muslimin, dan menjadi Wakil Mursyid Aam Jamaah Ikhwan, gagal menjadi calon presiden Mesir, karena dibatalkan oleh KPU Mesir, maka Jamaah Ikhwanul Muslimin, mengajukan calon penggantinya Mohammad Mursi.

Mursi yang merupakan tokoh Ikhwan itu, bertarung dengan tokoh-tokoh nasionalis-sekuler, yang ikut dalam pertarungan pemilihan presiden, termasuk orang kepercayaan Hosni Mubarak, yaitu Marsekal Ahmed Shafiq.

Ketika berlangsung pertarungan perebutan jabatan presiden, rakyat Mesir terbelah, sebagian mendukung Mursi, dan sebagian mendukung Marsekal Ahmed Shafiq. Tetapi, kalangan Islamis mayoritas memberikan dukungan kepada Mohammad Mursi. Meskipun, dukungan suara antara Mursi dan Ahmad Shafiq, relatif tipis.

Dilhat dari sini, sesungguhnya betapa masih kuatnya pengaruhnya pengikut Hosni Mubarak dalam kehidupan politik di Mesir. Para pemimpin NDP (National Democratic Party), yang menjadi partainya Hosni Mubarak, masih memiliki akar di masyarakat Mesir, karena Mubarak berkuasa lebih tiga puluh tahun.

Sekarang di Mesir terjadi kristalisasi antara kekuatan kafir dan mukmin. Antara kekuatan nasionalis-sekuler dengan kalangan Islamis. Kalangan nasionalis-sekuler yang kalah dalam pemilihan parlemen dan presiden, dan sekarang ingin menghambat pembaharuan yang dilakukan Mursi, yang ingin mempercepat perubahan di Mesir, dan dihambat oleh sisa-sisa rejim Mubarak, yang bercokol di lembagar peradilan negara, termasuk Mahkamah Agung.

Tetapi, pengaruh dakwah dari kalangan Islamis, jauh lebih mengakar dikalangan rakyat Mesir. Mereka menyatu dengan kehidupan masyarakat secara luas. Kalangan Islamis, jauh lebih kuat, serta memiliki akar yang dalam pada kehidupan rakyat Mesir. Kelompok-kelompok Gerakan Islam atau kalangan Islamis, berhasil mengubah secara mendasar tata cara hidup rakyat Mesir, dan menjadikan Islam sebagai sistem hidup mereka.

Gerakan Islam atau kalangan Islamis telah hidup bersama dengan rakyat, dan membantu rakyat kecil dengan tulus. Mereka membantu para petani. Mereka membantu rakyat miskin, dan mengadvokasi kepentingan rakyat, saat menghadapi kekuasaan yang sangat menindas. Mereka memberikan penyuluhan diberbagai bidang termasuk kesehatan.Mereka membantu orang-orang fakir miskin di pedesaan.

Kalangan Islamis telah masuk ke berbagai lembaga  profesi di Mesir. Melalui lembaga profesi itu, mereka membentuk berbagai assosiasi, dan membantu rakyat secara luas. Seperti Jamaah Ikhwanul Muslimin memiliki berbagai organisasi profesi di Mesir. Bahkan, di Mesir perguruan-perguruan tinggi, di negeri Spinx itu, organisasi mahasiswanya telah berada di kalangan aktivis Islamis.

Kemenangan Jamaah Ikwan dan Salafi yang menguasai lebih 70 persen suara di parlemen, dan ditambah partai-partai lebih kecil, jumlah kalangan Islamis di parlemen itu,  hampir mencapai 80 persen. Kalangan Nasionalis-
Sekuler hanya kurang dari 20 persen total mereka diparlemen.

Kalangan Islamis yang menguasai 80 persen suara di parlemen Mesir, itu berusaha dengan sangat keras, berusaha mengubah konstitusi Mesir, dan memasukkan klausul 176, ayat II, yang menjadikan syariah Islam, sebagai sumber hukum tertinggi di Mesir. Sehingga, kalangan Islamis mempunyai dasar hukum dalam usahanya menegakkan syariah Islam di Mesir, yang tidak diwujudkan oleh negara. Disinilah letak terjadinya pertarungan dan perang antara kaum Islamis dengan nasionalis-sekuler.

Kalangan Islamis itu, sepanjang sejarah Mesir, selalu mereka berhadap-hadapan dengan penguasa Mesir, yang berpaham nasionalis-sekuler. Sepanjang sejarah, kalangan Islamis terus berperang dengan para penguasa nasionalis sekuler, yang menjadi alat dan bagian dari para penjajah. Kalangan nasionalis sekuler, mereka itu hanya alat dari kepentingan Israel dan Amerika Serikat. Mereka tidak pernah berpihak kepada kepentingna rakyat Mesir.

Sekarang Mursi yang menjadi lambang kalangan Islamis dalam supremasi kekuasaan di Mesir, berusaha dengan sangat keras, segera mengubah seluruh aturan dan hukum, serta berbagai penyimpangan yang menjadi warisan rejim lama, dan telah membuat bangkrut Mesir, baik dari segi politik dan ekonomi.

Sebaliknya, kalangan nasionalis-sekuler hanyalah menjadi bagian subordinasi dari kekuasaan asing, mereka ini terdiri dari militer dan sipil, yang menjadi wakil kepentingan Zionis-Israel dan Amerika Serikat.

Karena itu, orang-orang seperti Raja Farouk, Jendral Najib, Jenderal Gamal Abdul Nasser, Marsekal Anwar Sadat, dan Marsekal  Hosni Mubarak, mereka ini hanyalah pelayan bagi kepentingan Israel dan Barat, yang mendapatkan dukungna massa dari kelangan nasionalis sekuler.

Gerakan dari kalangan nasionalis sekuler sekarang di pimpin Mohammad el-Baradei, yang lama tinggal di Barat, dan menjadi Direktur IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional), Sabhi (tokoh Sosialis dan Nasserir), Amri Mousa (mantan menteri luar negeri), dan sejumlah tokoh lainnya, yang berusaha menggagalkan Mursi yang mewakili dari kalangan Islamis, yang sekarang berkuasa.

Sesudah Mursi berkuasa mereka takut akan kehilangan pengaruhnya, dan menjadi kelompok marginal di Mesir. Sekarang mereka bersatu padu melawan pemerintahan Islami di bawah Mursi. Mereka kalangan nasionalis-sekuler menggerakan kekuatannya yang menguasai lapangan Tahrir Square, dan ingin menjatuhkan pemerintahan Mursi. Karena mereka takut tegaknya prinsip-prinsip Islam di Mesir.

Menghadapi tantangan kalangan nasionalis-sekuler itu,  Presiden Mohamed Morsy berbicara di hadapan ratusan ribu pendukungnya di luar istana presiden, sembari mengatakan,  "Jangan khawatir," katanya."Mari kita bergerak bersama ke fase baru", tambah Mursi.Mesir sudah pernah dipimpin para tokoh nasionalis-sekuler dan negeri itu menjadi "jembel", dan "peminta-minta sedekah" dari Amerika. Sekarang berusaha ingin bebas, dan tidak tergantung dengan negara manapun, dan bisa menjalankan politik luar negeri Mesir, yang tidak tergantung oleh negara manapun.

Mursi telah berperan secara regional, seperti mengatasi agresi militer Zionis-Israel terhadap rakyat Gaza. Semuanya itu berkat dari usaha-usaha yang sangat gigih dan komitmen yang tinggi dari pemimpin Mesir, Mohammad Mursi.

Sekarang Mursi menghadapi tantangan dari kalangan nasionalis-sekuler yang tidak suka terhadap Islam. Mereka dengan dalih kebebasan ingin mengakhiri pemerintahan Mursi, yang dianggap akan menghilangkan kebebasan. Wallahu'alam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentar Anda. Tolong tinggalkan alamat e-mail, blog atau website Anda.