ISABELLA, IS IT ONLY A SONG?
Taken by Syofian Hadi from http://www.facebook.com/topic.php?topic=12623&post=56032&uid=114794631268#/topic.php?uid=114794631268&topic=12623
Mohon Saudaraku baca dengan benar menyeluruh sebelum memberi komentar. Ini bukan karena produk malaysia, tapi ini sebuah Fakta. Sejak beberapa minggu, televisi kita banyak memutar kembali lagu lawas yang berjudul Isabella, lagu impor dari Malaysia tersebut pada sekitar awal tahun 90an yang lalu memang pernah meledak di pasaran Indonesia, lagu yang dahulu dipopulerkan oleh group band Search tersebut kini bahkan direpackaged (didaur ulang kembali) oleh Band ST 12, seolah memanfaatkan momen demam musik melayu yang melanda negeri ini sekarang, ST 12 tampaknya ingin mengulang sukses pendahulunya, group band Search ketika membawakan lagu ini, dan tanda-tanda ledakan kedua lagu Isabella ini sudah tampak, salah satu sinetron di RCTI yang berjudul sama (Isabella) juga siap mengusung lagu ini sebagai soundtracknya.
Tapi tahukah kawan, lagu ini sebenarnya tidak lebih dari prasasti kepiluan Umat Islam Andalusia (Spanyol), setiap alunan lagu ini adalah seperti membuka kembali kepedihan yang pernah dialami umat Islam di wilayah Granada (Spanyol bagian Selatan) di akhir abad 15 tersebut, mendengar lagu ini adalah seperti memaksa kita untuk mengingat-ingat terus akan penderitaan Umat Islam Andalusia pada waktu itu, lirik lagu ini seakan ingin mengabadikan ‘kemenangan besar’ kaum Katholik atas kaum Muslimin disana, judul lagu ini bahkan seperti sedang menyanjung sang aktor intelektual di balik peristiwa bengis yang dialami umat Islam waktu itu, yaitu Ratu Isabella.
Sejarah mencatat, pemusnahan etnis dan agama pertama dan terbesar di Eropa terjadi ketika Isabella I (Ratu Castile) dan suaminya, Ferdinand V (Raja Aragon) berhasil menggulingkan pemerintahan Sultan Muhammad XII (Kesultanan Islam terakhir di Granada) pada 2 Januari 1492 M., sejak saat itu, runtuhlah kejayaan Islam di Andalusia setelah bertahan selama lebih dari 8 abad, dan dimulailah abad kegelapan bagi Umat Islam Andalusia.
Di bawah kendali Isabella dan suaminya (Ferdinand) umat Islam Granada diberikan 3 pilihan yang sulit, pertama- masuk agama mereka (Katholik), kedua- keluar dari Tanah Air (Andalusia), ketiga- kalau tidak mau keduanya (masuk katholik dan keluar Andalusia) akan dibunuh dengan cara dibakar.
Beberapa diantara kaum Muslimin, demi kelangsungan hidupnya lebih memilih opsi pertama (masuk Katholik), akan tetapi paling banyak adalah yang mempertahankan keislamannya, meskipun harus terusir dari tanah airnya, meskipun harus mati terpanggang, akibatnya bisa ditebak, ribuan Muslim meninggal baik karena dibakar maupun karena kelaparan didalam perjalanan keluar dari tanah airnya, dan ratusan ribu yang lainnya terusir dan kemudian tinggal disekitar pantai Utara Maroko dan Tunisia (Afrika Utara) dan sebagian wilayah Turki.
Tidak itu saja, semua masjid di Granada kemudia dialih fungsikan menjadi gereja
Katholik, termasuk Masjid Kordoba yang megah itu, yang sejak saat itu berubah menjadi Gereja Santa Maria de la Sed, perpustakaan-perpustakaan Islam dikeluarkan isinya, kemudian ratusan ribu buku-bukunya dibakar habis, maka peradaban Islam pun hilang dari bumi Andalusia (Spanyol) hingga saat ini, yang tersisa hanya cerita-cerita tentang kejayaan Islam zaman dahulu melalui peninggalan-peninggalan yang masih ada seperti istana Al-Hambra dan masjid Kordoba yang tersohor seantero dunia tersebut.
Perhatikan dengan seksama reffrain lagu Isabella tersebut :
Reff:
Dia isabella, lambang cinta dan prahara
Terpisah karena adat yang berbeda
Cinta gugur bersama daun-daun kekeringan
Lambang Kekuatan Cinta Isabella dan Ferdinand yang mempersatukan dua kerajaan Katholik besar (Castile dan Aragon), yang akhirnya bisa menggulingkan pemerintahan Islam Granada yang sudah bertahan 8 abad lebih, namun darinya kemudian menimbulkan prahara kemanusiaan yang hebat bagi kaum Muslimin Granada. Kaum Muslimin Granada harus berpisah dengan Tanah airnya hanya karena agama yang berbeda dengan penguasa baru Granada (Isabella dan Ferdinand). Cinta mereka (Isabella dan Ferdinand) jatuh bersama kaum Muslimin yang mati kelaparan karena terusir dari Tanah Airnya maupun karena mati terbakar laksana daun-daun kekeringan.
Jadi masihkah kita ingin mendengar lagu tersebut, akankah kita biarkan anak-anak kita menyanyikan lagu kemenangan Isabella atas penderitaan kaum muslimin Granada tersebut, jawaban selanjutnya ada pada anda sendiri??
Sumber : http://kaifa10.wordpress.com/2009/07/17/lagu-isabella-cerita-kepedihan-umat-islam-andalusia/#more-71
"Happiness is to be shared. As we never know the moment when we exactly get our happiness, just share our today’s happiness!”
Jumat, 16 Oktober 2009
Syofian Hadi Needs Your Forgiveness
By Syofian Hadi
SAUDARAKU…
UCAPAN MAAF DIIBARATKAN HUJAN YANG MENGOBATI BUMI YANG DILANDA KEKERINGAN KARENA KESALAHAN DAN DOSA MANUSIA…
BUMI SAMA DENGAN HATI…
DUHAI SAUDARAKU…
DENGAN KETULUSAN HATI AKU MEMINTA MAAF ATAS PIKIRAN DAN PERKATAAN YANG TERUCAP MAUPUN TIDAK, DAN PERBUATAN YANG MENYAKITIMU…
IZINKAN AKU MENJADI HUJAN ITU…
TAQOBALLALLOHU MINNA WAMINKUM…
MINAL AIDIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN…
:-) maaf bila terlambat, baru sempat ngeblog, hehehe…
SAUDARAKU…
UCAPAN MAAF DIIBARATKAN HUJAN YANG MENGOBATI BUMI YANG DILANDA KEKERINGAN KARENA KESALAHAN DAN DOSA MANUSIA…
BUMI SAMA DENGAN HATI…
DUHAI SAUDARAKU…
DENGAN KETULUSAN HATI AKU MEMINTA MAAF ATAS PIKIRAN DAN PERKATAAN YANG TERUCAP MAUPUN TIDAK, DAN PERBUATAN YANG MENYAKITIMU…
IZINKAN AKU MENJADI HUJAN ITU…
TAQOBALLALLOHU MINNA WAMINKUM…
MINAL AIDIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN…
:-) maaf bila terlambat, baru sempat ngeblog, hehehe…
Minggu, 13 September 2009
Bukan Mata Silinder, tapi Astigmatisma
Written by Syofian Hadi
”Di matamu minus berapa?” pertanyaan tersebut selalu muncul dalam pergaulanku sehari-hari sejak aku mengenakan kaca mata sekitar satu setengah tahun yang lalu. Aku hanya menjawab, ”silinder”. Aku sudah merasakan ketidaknyamanan dengan kedua mata ini sejak kelas 3 SMA. Namun, aku biarkan saja. Yang aku rasakan adalah kesulitan dalam melihat objek yang jauh. Aku pikir mungkin aku rabun jauh. Dua tahun yang lalu, ketidaknyamanan ini terus memburuk, kalau melihat orang dari kejauhan sudah tidak jelas lagi, tubuh mereka seperti ada bayangan di belakangnya, mata mereka jadi tampak ada empat dan bertumpukan dengan hidung dan mulut. Seperti melihat gambar di kertas yang sisi-sisinya meleber terkena air. Hahahaha, aneh juga ya?
Pernah aku dan teman-teman iseng periksa mata gratis beberapa di beberapa optik yang berbeda di beberapa pusat perbelanjaan di Bandar Lampung. Supaya tidak malu atau opticiannya mau melayani kami dengan baik, kami meminta teman kami yang berkaca mata untuk pura-pura membeli frame atau lensa dengan cara menanyakan harga atau mencoba beberapa frame atau lensa tersebut, kemudian dia memeriksakan matanya pada sebuah alat digital, dan saat itulah kesempatan kami untuk ikut memeriksakan mata kami. (Hahahahaha, maaf ya mbak dan mas optician). Setelah aku memeriksakan mata, kami mendapatkan print hasil periksa kondisi mata kami. Hasilnya, mataku ada minus dan silindernya.
Kemudian aku benar-benar serius memeriksakan mataku di optik yang konon terbaik di Bandar Lampung. Awalnya aku ditanyai mengenai keluhanku, kemudian aku diperiksa dengan alat digital seperti biasa aku periksa di mall, kemudian aku diperiksa lagi dengan alat seperti kaca mata yang lensa kiri dan kanannya bisa diganti-ganti hingga aku menemukan lensa yang tepat, cocok dan nyaman untuk membantu kedua mataku. Ternyata, alhasil mata kananku SPH -0,75 dan mata kiri CYL -1 AXIS 15. Aku juga kurang faham dengan hal tersebut, opticiannya hanya bilang mataku silinder kiri dan kanan.
Aku bingung dan bertanya-tanya sendiri, ”kok mataku minus juga iya dan silinder juga iya? Bisa bareng? Apa sih silinder itu?”. Karena yang hanya aku tahu adalah rabun jauh (minus) dan rabun dekat (plus).
Beberapa sumber yang aku dapat mengatakan bahwa terminologi mata silinder ternyata tak tepat karena sebenarnya bukan matanya yang silinder tetapi lensa yang fungsinya mengoreksi keadaan astigmatisma ini yang bersifat silinder. Jadi, yang ada lensa silinder bukan mata silinder. So, jangan sebut mata silinder tetapi Astigmatisma.
Mata kita idelanya berbentuk bulat seperti bola sepak, sehingga semua sinar yang dibiaskan dari suatu objek yang masuk ke dalam mata kita akan bertemu di satu titik retina. Pada kelainan Astigmatisma, bola mata berbentuk ellips atau lonjong, seperti bola rugby, sehingga sinar yang masuk ke dalam mata tidak akan bertemu di satu titik retina. Sinar akan dibiaskan tersebar di retina, hal ini akan menyebabkan pandangan menjadi kabur, tidak jelas, berbayang, baik pada saat melihat dekat maupun jauh.
Astigmatisma terjadi karena kelainan refraksi pada permukaan kornea mata. Kelainan Astigmatisma yang kecil akan memberikan gangguan ketajaman penglihatan ringan, namun dapat menyebabkan sakit kepala, ketegangan pada mata dan kelelahan.
Cara mengoreksi Astigmatisma adalah dengan memberikan lensa silinder. Pasien dapat mengalami kombinasi kelainan Astigmatisma dan myopia (rabun jauh) atau hypermetropia (rabun dekat). Jika hal ini terjadi, dapat diatasi dengan memberikan kombinasi antara lensa spheris dan dan lensa silinder, ditempatkan pada axis/derajat yang sesuai.
Kasus astigmatisma banyak dijumpai pada orang Asia. Silinder tidak dapat disembuhkan selain dengan cara operasi yang dapat dilakukan setelah calon pasien berumur 17 tahun dan tidak punya penyakit mata lainnya.
Mari jaga mata kita!

”Di matamu minus berapa?” pertanyaan tersebut selalu muncul dalam pergaulanku sehari-hari sejak aku mengenakan kaca mata sekitar satu setengah tahun yang lalu. Aku hanya menjawab, ”silinder”. Aku sudah merasakan ketidaknyamanan dengan kedua mata ini sejak kelas 3 SMA. Namun, aku biarkan saja. Yang aku rasakan adalah kesulitan dalam melihat objek yang jauh. Aku pikir mungkin aku rabun jauh. Dua tahun yang lalu, ketidaknyamanan ini terus memburuk, kalau melihat orang dari kejauhan sudah tidak jelas lagi, tubuh mereka seperti ada bayangan di belakangnya, mata mereka jadi tampak ada empat dan bertumpukan dengan hidung dan mulut. Seperti melihat gambar di kertas yang sisi-sisinya meleber terkena air. Hahahaha, aneh juga ya?
Pernah aku dan teman-teman iseng periksa mata gratis beberapa di beberapa optik yang berbeda di beberapa pusat perbelanjaan di Bandar Lampung. Supaya tidak malu atau opticiannya mau melayani kami dengan baik, kami meminta teman kami yang berkaca mata untuk pura-pura membeli frame atau lensa dengan cara menanyakan harga atau mencoba beberapa frame atau lensa tersebut, kemudian dia memeriksakan matanya pada sebuah alat digital, dan saat itulah kesempatan kami untuk ikut memeriksakan mata kami. (Hahahahaha, maaf ya mbak dan mas optician). Setelah aku memeriksakan mata, kami mendapatkan print hasil periksa kondisi mata kami. Hasilnya, mataku ada minus dan silindernya.
Kemudian aku benar-benar serius memeriksakan mataku di optik yang konon terbaik di Bandar Lampung. Awalnya aku ditanyai mengenai keluhanku, kemudian aku diperiksa dengan alat digital seperti biasa aku periksa di mall, kemudian aku diperiksa lagi dengan alat seperti kaca mata yang lensa kiri dan kanannya bisa diganti-ganti hingga aku menemukan lensa yang tepat, cocok dan nyaman untuk membantu kedua mataku. Ternyata, alhasil mata kananku SPH -0,75 dan mata kiri CYL -1 AXIS 15. Aku juga kurang faham dengan hal tersebut, opticiannya hanya bilang mataku silinder kiri dan kanan.
Aku bingung dan bertanya-tanya sendiri, ”kok mataku minus juga iya dan silinder juga iya? Bisa bareng? Apa sih silinder itu?”. Karena yang hanya aku tahu adalah rabun jauh (minus) dan rabun dekat (plus).
Beberapa sumber yang aku dapat mengatakan bahwa terminologi mata silinder ternyata tak tepat karena sebenarnya bukan matanya yang silinder tetapi lensa yang fungsinya mengoreksi keadaan astigmatisma ini yang bersifat silinder. Jadi, yang ada lensa silinder bukan mata silinder. So, jangan sebut mata silinder tetapi Astigmatisma.
Mata kita idelanya berbentuk bulat seperti bola sepak, sehingga semua sinar yang dibiaskan dari suatu objek yang masuk ke dalam mata kita akan bertemu di satu titik retina. Pada kelainan Astigmatisma, bola mata berbentuk ellips atau lonjong, seperti bola rugby, sehingga sinar yang masuk ke dalam mata tidak akan bertemu di satu titik retina. Sinar akan dibiaskan tersebar di retina, hal ini akan menyebabkan pandangan menjadi kabur, tidak jelas, berbayang, baik pada saat melihat dekat maupun jauh.
Astigmatisma terjadi karena kelainan refraksi pada permukaan kornea mata. Kelainan Astigmatisma yang kecil akan memberikan gangguan ketajaman penglihatan ringan, namun dapat menyebabkan sakit kepala, ketegangan pada mata dan kelelahan.
Cara mengoreksi Astigmatisma adalah dengan memberikan lensa silinder. Pasien dapat mengalami kombinasi kelainan Astigmatisma dan myopia (rabun jauh) atau hypermetropia (rabun dekat). Jika hal ini terjadi, dapat diatasi dengan memberikan kombinasi antara lensa spheris dan dan lensa silinder, ditempatkan pada axis/derajat yang sesuai.
Kasus astigmatisma banyak dijumpai pada orang Asia. Silinder tidak dapat disembuhkan selain dengan cara operasi yang dapat dilakukan setelah calon pasien berumur 17 tahun dan tidak punya penyakit mata lainnya.
Mari jaga mata kita!

Rabu, 09 September 2009
09/09/09
Written by Syofian Hadi
The Signs of Allah have they sold for a miserable price, and (many) have they hindered from His way: evil indeed are the deeds they have done. (QS.09:09)
“Mereka memperjualbelikan ayat-ayat Alloh dengan harga murah, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Alloh. Sungguh, betapa buruknya apa yang mereka kerjakan.” (QS.09:09)
Apakah persis seperti ayat di ataskah kondisi dunia saat ini?
Makna Umum
Surat at – Taubah ayat 9 ini merupakan gambaran kaum musyrik, yang biasa menukarkan ayat – ayat Alloh SWT dengan harga yang rendah. Mereka memutarbalikkan ayat – ayat tersebut hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, baik berupa kekuasaan, kepemimpinan, maupun harta dengan cara menghalangi manusia untuk beriman sehingga loyalitasnya tetap untuk mereka. Sekalipun objek ayat ini adalah kaum musyrik, adanya penyifatan “ Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan, “ menunjukkan bahwa siapapun orang yang melakukan perbuatan tersebut berarti melakukan perbuatan yang paling buruk, yang tentu saja diharamkan."
Keharaman menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah ini ditegaskan oleh qara’in ( indikasi – indikasi ) dalam banyak ayat. Di antaranya, mereka yang melakukan hal tersebut berarti melakukan perbuatan amat buruk ( QS Ali Imran [3] : 187 dan at – Taubah [9] : 9); mereka celaka ( QS al – Baqarah [2] : 79); membeli kesesatan dengan petunjuk; membeli siksa dengan ampunan ( QS al – Baqarah [2] : 174 – 175 ). Semua ini secara tegas menunjukkan keharaman perbuatan tersebut.
Lebih jauh, pengertian menjual ayat – ayat Alloh SWT dengan harga murah ini dijelaskan dalam ayat – ayat lain. Pertama, menulis al – Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menyatakan, “ ini dari Alloh, “ padahal bukan. ( Lihat QS al – Baqarah [2] : 79 ). Mereka memutar – mutar lidahnya membaca al – Kitab dan membuat – buat legalisasi seakan apa yang diungkapkannya adalah wahyu, padahal itu berasal dari logika mereka sendiri ( QS Ali Imran [3] : 77 – 88 ).
Kedua, menyembunyikan ayat Alloh. ( Lihat QS al – Baqarah [2] : 174 – 175 ). Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli siksa dengan ampunan. Alloh mengambil janji untuk menerangkan isi Kitab dan tidak menyembunyikannya. Akan tetapi, mereka melemparkan janji itu dan menukarkannya dengan harga sedikit. ( QS Ali Imran [3] : 187).
Ketiga, orang – orang yang beriman kepada Alloh dan pada wahyu yang diturunkan kepada para nabi apa adanya, mereka itu orang yang tidak menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah. Mereka tidak terpedaya oleh kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan orang kafir. Artinya, perbuatan tidak mengimaninya merupakan tindakan menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah ( Lihat QS Ali Imran [3] : 196 – 199 ).
Keempat, tidak menghukumi setiap perkara dengan ayat – ayat Alloh SWT dan menggantinya dengan yang lain karena takut kepada manusia. ( Lihat QS al – Maidah [5] : 44 ). Penyebab sebenarnya orang yang menukar ayat Alloh dengan harga murah adalah :
(1) lebih takut kepada manusia daripada kepada Alloh SWT ( Lihat QS al – Maidah [5] : 44 );
(2) untuk kepentingan orang lain ( Lihat QS al – Maidah [5] : 106 ); dan puncaknya
(3) untuk menghalang – halangi manusia dari jalan Alloh SWT ( Lihat QS at – Taubah [9] : 9 ). Walhasil, semuanya ditujukan semata – mata untuk kepentingan dunia.
Larangan menjual atau menukarkan ayat – ayat Alloh SWT dengan harga sedikit tidak bisa dipahami sebagai ‘ kalau harganya mahal adalah boleh ‘. Sebab, sekalipun perbuatannya itu dihargai dengan seluruh dunia dan segala isinya, semua itu tetap sedikit. Dunia dengan segala kesenangannya hanyalah seonggok perhiasaan yang penuh tipuan. Apa yang ada di dunia akan lenyap sementara apa yang ada pada sisi Alloh kekal ( QS an – Nahl [16] : 96 ). Dunia tidak ada artinya apa – apa jika dibandingkan dengan ampunan dan ridha Alloh SWT yang salah satu wujudnya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi ( QS Ali Imram [3] : 133 ). Kunci agar seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah adalah betul – betul bertaqwa kepada Alloh SWT. ( QS al – Baqarah [2] : 41 ).
Renungan
Pengalaman menunjukkan bahwa pada saat – saat pemilihan umum ( Pemilu ) sering ayat – ayat al – Quran disajikan. Jika penyajian tersebut dalam rangka menjelaskan hukum dan upaya untuk memperjuangkannya untuk diterapkan di tengah kehidupan, maka hal tersebut merupakan tuntutan Islam. Akan tetapi, sayangnya, banyak ayat – ayat tersebut sekedar untuk meraih dukungan, disajikan dalam konteks perolehan suara, dan setelah itu selesailah sudah.
Keluarlah ayat bahwa kalimat yang baik laksana pohon yang baik ( seperti disitir dalam QS Ibrahim [14] : 24 ) untuk mempromosikan lambang partainya yang berbentuk pohon. Diungkaplah pernyataan umat Nabi Musa as dalam QS al – Maidah [5] : 24, “ Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, kami di sini cukup duduk saja, “ untuk melegalisasi keikutsertaan dalam sistem kufur dan menyindir orang yang tidak mau terlibat dalam sistem tersebut ( GOLPUT). Juga, dieksploitasilah ayat – ayat syura ( seperti dalam QS Ali Imran [3] : 159 dan QS asy – Syura [42] : 38 ) dengan menyatakan bahwa syura adalah demokrasi – dalam rangka melegalkan sistem demokrasi dan meraih dukungan bagi partainya. Banyak lagi ayat – ayat al – Quran yang bertebaran saat Pemilu, yang sayangnya jauh dari pengertian sesungguhnya dan tampak dipaksakan hanya sekedar untuk meraih dukungan.
Wahai kaum Muslim, waspadalah, jangan sampai terjerumus pada kategori, “ menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! “
(http://tomi25.multiply.com/journal/item/6/6
The Signs of Allah have they sold for a miserable price, and (many) have they hindered from His way: evil indeed are the deeds they have done. (QS.09:09)
“Mereka memperjualbelikan ayat-ayat Alloh dengan harga murah, lalu mereka menghalang-halangi (orang) dari jalan Alloh. Sungguh, betapa buruknya apa yang mereka kerjakan.” (QS.09:09)
Apakah persis seperti ayat di ataskah kondisi dunia saat ini?
Makna Umum
Surat at – Taubah ayat 9 ini merupakan gambaran kaum musyrik, yang biasa menukarkan ayat – ayat Alloh SWT dengan harga yang rendah. Mereka memutarbalikkan ayat – ayat tersebut hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, baik berupa kekuasaan, kepemimpinan, maupun harta dengan cara menghalangi manusia untuk beriman sehingga loyalitasnya tetap untuk mereka. Sekalipun objek ayat ini adalah kaum musyrik, adanya penyifatan “ Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan, “ menunjukkan bahwa siapapun orang yang melakukan perbuatan tersebut berarti melakukan perbuatan yang paling buruk, yang tentu saja diharamkan."
Keharaman menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah ini ditegaskan oleh qara’in ( indikasi – indikasi ) dalam banyak ayat. Di antaranya, mereka yang melakukan hal tersebut berarti melakukan perbuatan amat buruk ( QS Ali Imran [3] : 187 dan at – Taubah [9] : 9); mereka celaka ( QS al – Baqarah [2] : 79); membeli kesesatan dengan petunjuk; membeli siksa dengan ampunan ( QS al – Baqarah [2] : 174 – 175 ). Semua ini secara tegas menunjukkan keharaman perbuatan tersebut.
Lebih jauh, pengertian menjual ayat – ayat Alloh SWT dengan harga murah ini dijelaskan dalam ayat – ayat lain. Pertama, menulis al – Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menyatakan, “ ini dari Alloh, “ padahal bukan. ( Lihat QS al – Baqarah [2] : 79 ). Mereka memutar – mutar lidahnya membaca al – Kitab dan membuat – buat legalisasi seakan apa yang diungkapkannya adalah wahyu, padahal itu berasal dari logika mereka sendiri ( QS Ali Imran [3] : 77 – 88 ).
Kedua, menyembunyikan ayat Alloh. ( Lihat QS al – Baqarah [2] : 174 – 175 ). Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli siksa dengan ampunan. Alloh mengambil janji untuk menerangkan isi Kitab dan tidak menyembunyikannya. Akan tetapi, mereka melemparkan janji itu dan menukarkannya dengan harga sedikit. ( QS Ali Imran [3] : 187).
Ketiga, orang – orang yang beriman kepada Alloh dan pada wahyu yang diturunkan kepada para nabi apa adanya, mereka itu orang yang tidak menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah. Mereka tidak terpedaya oleh kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan orang kafir. Artinya, perbuatan tidak mengimaninya merupakan tindakan menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah ( Lihat QS Ali Imran [3] : 196 – 199 ).
Keempat, tidak menghukumi setiap perkara dengan ayat – ayat Alloh SWT dan menggantinya dengan yang lain karena takut kepada manusia. ( Lihat QS al – Maidah [5] : 44 ). Penyebab sebenarnya orang yang menukar ayat Alloh dengan harga murah adalah :
(1) lebih takut kepada manusia daripada kepada Alloh SWT ( Lihat QS al – Maidah [5] : 44 );
(2) untuk kepentingan orang lain ( Lihat QS al – Maidah [5] : 106 ); dan puncaknya
(3) untuk menghalang – halangi manusia dari jalan Alloh SWT ( Lihat QS at – Taubah [9] : 9 ). Walhasil, semuanya ditujukan semata – mata untuk kepentingan dunia.
Larangan menjual atau menukarkan ayat – ayat Alloh SWT dengan harga sedikit tidak bisa dipahami sebagai ‘ kalau harganya mahal adalah boleh ‘. Sebab, sekalipun perbuatannya itu dihargai dengan seluruh dunia dan segala isinya, semua itu tetap sedikit. Dunia dengan segala kesenangannya hanyalah seonggok perhiasaan yang penuh tipuan. Apa yang ada di dunia akan lenyap sementara apa yang ada pada sisi Alloh kekal ( QS an – Nahl [16] : 96 ). Dunia tidak ada artinya apa – apa jika dibandingkan dengan ampunan dan ridha Alloh SWT yang salah satu wujudnya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi ( QS Ali Imram [3] : 133 ). Kunci agar seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah adalah betul – betul bertaqwa kepada Alloh SWT. ( QS al – Baqarah [2] : 41 ).
Renungan
Pengalaman menunjukkan bahwa pada saat – saat pemilihan umum ( Pemilu ) sering ayat – ayat al – Quran disajikan. Jika penyajian tersebut dalam rangka menjelaskan hukum dan upaya untuk memperjuangkannya untuk diterapkan di tengah kehidupan, maka hal tersebut merupakan tuntutan Islam. Akan tetapi, sayangnya, banyak ayat – ayat tersebut sekedar untuk meraih dukungan, disajikan dalam konteks perolehan suara, dan setelah itu selesailah sudah.
Keluarlah ayat bahwa kalimat yang baik laksana pohon yang baik ( seperti disitir dalam QS Ibrahim [14] : 24 ) untuk mempromosikan lambang partainya yang berbentuk pohon. Diungkaplah pernyataan umat Nabi Musa as dalam QS al – Maidah [5] : 24, “ Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, kami di sini cukup duduk saja, “ untuk melegalisasi keikutsertaan dalam sistem kufur dan menyindir orang yang tidak mau terlibat dalam sistem tersebut ( GOLPUT). Juga, dieksploitasilah ayat – ayat syura ( seperti dalam QS Ali Imran [3] : 159 dan QS asy – Syura [42] : 38 ) dengan menyatakan bahwa syura adalah demokrasi – dalam rangka melegalkan sistem demokrasi dan meraih dukungan bagi partainya. Banyak lagi ayat – ayat al – Quran yang bertebaran saat Pemilu, yang sayangnya jauh dari pengertian sesungguhnya dan tampak dipaksakan hanya sekedar untuk meraih dukungan.
Wahai kaum Muslim, waspadalah, jangan sampai terjerumus pada kategori, “ menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! “
(http://tomi25.multiply.com/journal/item/6/6
Jumat, 28 Agustus 2009
Al-Farghani
Written by Syofian Hadi
“Di, siapa sih Alfarghani? Bapakmu ya?” Wajar saja jika ada beberapa teman menanyakan hal itu karena semua alamat e-mail, blog, atau nama penaku pasti berbau-bau nama Al-Farghani, aku tambahkan nama Alfarghani di belakang namaku. Dulu semasa SMA aku suka membaca majalah Annida punya kakak perempuanku, di dalamnya ada banyak tulisan, puisi dan cerpen yang luar biasa bagusnya. Ada keinginan menjadi seorang penulis juga. Ada puisi yang aku buat dan rencananya dulu akan aku coba kirimkan ke Annida agar dimuat. Saat itu belum ada nama pena, entah mengapa ingin menggunakan nama yang berbeda, padahal namaku sendiri sudah cukup bagus sekali, hehehe. Tak sengaja aku menemukan buku Pendidikan Agama Islam, kalau tidak salah buku untuk siswa SMP kelas 3, di dalamnya ada bab mengenai ilmuwan-ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, dan lain-lainnya. Kemudian ada nama Al-Farghani, nama lengkapnya Abu'l-Abbas Ahmad ibnu Muhammad ibnu Kathir Al-Farghani. Tidak seperti Ibnu Sina yang informasinya cukup banyak, untuk Al-Farghani informasi yang tertulis di buku tersebut tidak cukup banyak, hanya menerangkan bahwa ia adalah seorang astronom. Sejak saat itu aku menggunakan nama Alfaghani dibelakang namaku, Hadi Alfarghani, walau puisiku tak pernah dimuat, hehehehe. Beberapa saat aku jarang menggunakan nama itu lagi, bahkan hampir lupa. Pada awal 2006, aku ingin membuat account friendster, syaratnya harus punya e-mail, kemudian aku gunakan lagi nama tersebut.
So, siapa sih sosok Alfarghani ini? Ada beberapa sumber di internet yang menuliskan biografi singkat mengenai sosok beliau, aku copy salah satunya dari http://rumahislam.com/tokoh/3-ilmuwan/4-newsflash-3.html
Al Farghani, Rujukan Astronom Eropa
Astronomi merupakan ilmu yang telah lama menjadi objek kajian umat Islam. Melalui kajian ilmu ini umat Islam mampu mengurai misteri benda-benda langit dan memberikan sumbangan berharga di dalamnya. Tak heran pula jika banyak astronom Muslim dan menyumbangkan pemikirannya dalam karya yang dibukukukan.
Sebagian besar karya mereka pun menjadi rujukan. Tak hanya oleh ilmuwan semasanya yang juga Muslim namun juga oleh ilmuwan non-Muslim. Buku karya mereka telah melintasi batas wilayah. Karya mereka tak hanya dirujuk di negeri asalnya namun juga bangsa-bangsa lainnya, semisal di Eropa.
Salah satu astronom Muslim yang berhasil menorehkan prestasi gemilang itu adalah Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Pria yang karib disapa Al-Farghani ini lahir di Farghana. Ia adalah salah satu astronom yang hidup pada masa pemerintahan khalifah Al-Mamun pada abad kesembilan dan pewaris pemerintahan selanjutnya.
Pada masa itu pemerintah memang memberikan dukungan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kajian astronomi. Bahkan khalifah membangun sebuah lembaga kajian yang sering disebut sebagai Akademi Al-Mamun. Al-Farghani merupakan salah satu ilmuwan yang direkrut untuk bergabung di dalam akademi tersebut.
Al-Farghani bersama astronom lainnya telah menggunakan peralatan kerja yang canggih pada masanya. Mereka mampu memanfaatkan fasilitas yang ada, hingga mampu menghitung ukuran bumi, meneropong bintang-bintang dan menerbitkan berbagai laporan ilmiah.
Dan kemudian Al-Farghani pun mampun menuliskan sebuah karya astronomi yang di kemudian hari menjadi rujukan banyak orang. Ia menuliskan Kitab fi al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum yang dalam dialihbahasakan menjadi The Elements of Astronomy. Buku ini isinya mengenai gerakan celestial dan kajian atas bintang.
Pada abad kedua belas buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan astronomi di Eropa sebelum masa Regiomontanus. Al-Farghani memang mengadopsi teori-teori Ptolemaeus namun kemudian ia kembangkan lebih lanjut. Hingga akhirnya ia mampu membentuk teorinya sendiri.
Selain itu ia pun kemudian berhasil menentukan besarnya diameter bumi yang mencapai 6.500 mil. Al-Farggani menjabarkan pula jarak dan diameter planet lainnya. Ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa. Tak heran jika buku karya Al-Farghani tersebut mendapatkan respons yang positif tak hanya oleh kalangan Muslim juga ilmuwan non-Muslim.
Terkenalnya karya Al-Farghani ini disebabkan adanya upaya penerjamahan atas karyanya tersebut. Dua terjemahan The Elements of Astronomy dalam bahasa latin ditulis pada abad kedua belas. Salah satunya ditulis oleh John Seville pada 1135 yang kemudian direvisi oleh Regiomontanus pada 1460-an.
Sedangkan terjemahan lainnya ditulis oleh Gerard Cremona sebelum 1175. Karya selanjutnya disusun oleh Dante yang dilengkapi oleh pemahaman dirinya mengenai astronomi dan ia masukan dalam karyanya, La Vita Nuova. Seorang ilmuwan Yahudi, Jacob Anatoli menerjemahkannya pula ke dalam bahasa Yahudi.
Ini menjadi versi latin ketiga yang dibuat pada 1590. Dan pada 1669 Jacob Golius menerbitkan teks latin yang baru. Bersamaan dengan karya-karya tersebut, banyak ringkasan karya Al-Farghani yang beredar di kalangan saintis dan ini memberikan kontribusi bagi perkembangan pemikiran Al-Farghani di Eropa.
Kelak kemudian hari, The Elements of Astronomy diakui memang sebagai sebuah karya yang sangat berpengaruh. Seorang ilmuwan yang bernama Abd al-Aziz al-Qabisi memberikan komentar atas karya Al-Farghani tersebut, yang kemudian komentar Abd al-Aziz ini tersimpan di Istanbul sebagai manuskrip yang sangat berharga.
Manuskrip lainnya juga banyak bertebaran di berbagi perpustakaan yang ada di Eropa. Ini membuktikan pula bahwa pemikiran Al-Farghani menjadi acuan dalam perkembangan astronomi di Eropa. Aktivitas Al-Farghani tak melulu di bidang astronomi namun ia pun melebarkan aktivitasnya di bidang teknik.
Ini terbukti jika kita mengutip ucapan seorang ilmuwan yang bernama Ibn Tughri Birdi. Ia menyatakan, Al-Farghani pernah ikut dalam melakukan pengawasan pembangunan Great Nilometer, merupakan alat pengukur air, di Fustat atau Kairo Lama.
Bangunan tersebut rampung pada 861 bersamaan dengan meninggalnya Kalifah Al-Mutawwakil yang memerintahkan adanya pembangunan Nilometer tersebut. Tughri menyatakan bahwa semula Al-Farghani memang tak dilibatkan. Namun ia akhirnya terlibat juga karena harus melanjutkan tugas yang dibebankan kepada putra khalifah yaitu Musa Ibn Shakir, Muhamad dan Ahmad.
Ia harus melakukan pengawasan atas penggalian kanal yang dinamakan Kanal Al-Ja'fari di kota baru Al-Ja'fariyya, yang letaknya berdekatakan dengan Samaran di daerah Tigris. Al-Farghani saat itu memerintahkan penggalian kanal dengan membuat hulu kanal digali lebih dalam dibandingkan bagian lainnya.
Maka tak ada air yang cukup mengalir pada kanal tersebut kecuali pada saat permukaan air Sungai Tigris sedang pasang. Kebijakan Al-Farghani ini kemudian didengar oleh sang khalifah dan membuatnya marah. Namun hitungan Al-Farghani kemudian dibenarkan oleh seorang pakar teknik lainnya yang berpengaruh pula, yaitu Sind Ibn Ali.
Sind membenarkan perhitungan yang dilakukan oleh Al-Farghani. Paling tidak ini membuat khalifah menerima kebijakan tersebut. Dalam bidang teknik, Al-Farghani juga menelurkan karya dalam bentuk buku yaitu Kitab al-Fusul, Ikhtiyar al-Majisti, dan Kitab 'Amal al-Rukhamat.
@_@ Subhanalloh, keren kan ilmuwan kita? Walau sekarang nyatanya aku justru tidak berkecimpung dengan dunia yang ada hubungannya dengan astronomi dan teknik. Tapi, kita kan bisa jadi ilmuwan bidang apa saja yang bermanfaat bagi umat. Amiiin. Yuk, kita buat sejarah baru!
“Di, siapa sih Alfarghani? Bapakmu ya?” Wajar saja jika ada beberapa teman menanyakan hal itu karena semua alamat e-mail, blog, atau nama penaku pasti berbau-bau nama Al-Farghani, aku tambahkan nama Alfarghani di belakang namaku. Dulu semasa SMA aku suka membaca majalah Annida punya kakak perempuanku, di dalamnya ada banyak tulisan, puisi dan cerpen yang luar biasa bagusnya. Ada keinginan menjadi seorang penulis juga. Ada puisi yang aku buat dan rencananya dulu akan aku coba kirimkan ke Annida agar dimuat. Saat itu belum ada nama pena, entah mengapa ingin menggunakan nama yang berbeda, padahal namaku sendiri sudah cukup bagus sekali, hehehe. Tak sengaja aku menemukan buku Pendidikan Agama Islam, kalau tidak salah buku untuk siswa SMP kelas 3, di dalamnya ada bab mengenai ilmuwan-ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, dan lain-lainnya. Kemudian ada nama Al-Farghani, nama lengkapnya Abu'l-Abbas Ahmad ibnu Muhammad ibnu Kathir Al-Farghani. Tidak seperti Ibnu Sina yang informasinya cukup banyak, untuk Al-Farghani informasi yang tertulis di buku tersebut tidak cukup banyak, hanya menerangkan bahwa ia adalah seorang astronom. Sejak saat itu aku menggunakan nama Alfaghani dibelakang namaku, Hadi Alfarghani, walau puisiku tak pernah dimuat, hehehehe. Beberapa saat aku jarang menggunakan nama itu lagi, bahkan hampir lupa. Pada awal 2006, aku ingin membuat account friendster, syaratnya harus punya e-mail, kemudian aku gunakan lagi nama tersebut.
So, siapa sih sosok Alfarghani ini? Ada beberapa sumber di internet yang menuliskan biografi singkat mengenai sosok beliau, aku copy salah satunya dari http://rumahislam.com/tokoh/3-ilmuwan/4-newsflash-3.html
Al Farghani, Rujukan Astronom Eropa
Astronomi merupakan ilmu yang telah lama menjadi objek kajian umat Islam. Melalui kajian ilmu ini umat Islam mampu mengurai misteri benda-benda langit dan memberikan sumbangan berharga di dalamnya. Tak heran pula jika banyak astronom Muslim dan menyumbangkan pemikirannya dalam karya yang dibukukukan.Sebagian besar karya mereka pun menjadi rujukan. Tak hanya oleh ilmuwan semasanya yang juga Muslim namun juga oleh ilmuwan non-Muslim. Buku karya mereka telah melintasi batas wilayah. Karya mereka tak hanya dirujuk di negeri asalnya namun juga bangsa-bangsa lainnya, semisal di Eropa.
Salah satu astronom Muslim yang berhasil menorehkan prestasi gemilang itu adalah Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Pria yang karib disapa Al-Farghani ini lahir di Farghana. Ia adalah salah satu astronom yang hidup pada masa pemerintahan khalifah Al-Mamun pada abad kesembilan dan pewaris pemerintahan selanjutnya.
Pada masa itu pemerintah memang memberikan dukungan bagi berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kajian astronomi. Bahkan khalifah membangun sebuah lembaga kajian yang sering disebut sebagai Akademi Al-Mamun. Al-Farghani merupakan salah satu ilmuwan yang direkrut untuk bergabung di dalam akademi tersebut.
Al-Farghani bersama astronom lainnya telah menggunakan peralatan kerja yang canggih pada masanya. Mereka mampu memanfaatkan fasilitas yang ada, hingga mampu menghitung ukuran bumi, meneropong bintang-bintang dan menerbitkan berbagai laporan ilmiah.
Dan kemudian Al-Farghani pun mampun menuliskan sebuah karya astronomi yang di kemudian hari menjadi rujukan banyak orang. Ia menuliskan Kitab fi al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum yang dalam dialihbahasakan menjadi The Elements of Astronomy. Buku ini isinya mengenai gerakan celestial dan kajian atas bintang.
Pada abad kedua belas buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan memberikan pengaruh besar bagi perkembangan astronomi di Eropa sebelum masa Regiomontanus. Al-Farghani memang mengadopsi teori-teori Ptolemaeus namun kemudian ia kembangkan lebih lanjut. Hingga akhirnya ia mampu membentuk teorinya sendiri.
Selain itu ia pun kemudian berhasil menentukan besarnya diameter bumi yang mencapai 6.500 mil. Al-Farggani menjabarkan pula jarak dan diameter planet lainnya. Ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa. Tak heran jika buku karya Al-Farghani tersebut mendapatkan respons yang positif tak hanya oleh kalangan Muslim juga ilmuwan non-Muslim.
Terkenalnya karya Al-Farghani ini disebabkan adanya upaya penerjamahan atas karyanya tersebut. Dua terjemahan The Elements of Astronomy dalam bahasa latin ditulis pada abad kedua belas. Salah satunya ditulis oleh John Seville pada 1135 yang kemudian direvisi oleh Regiomontanus pada 1460-an.
Sedangkan terjemahan lainnya ditulis oleh Gerard Cremona sebelum 1175. Karya selanjutnya disusun oleh Dante yang dilengkapi oleh pemahaman dirinya mengenai astronomi dan ia masukan dalam karyanya, La Vita Nuova. Seorang ilmuwan Yahudi, Jacob Anatoli menerjemahkannya pula ke dalam bahasa Yahudi.
Ini menjadi versi latin ketiga yang dibuat pada 1590. Dan pada 1669 Jacob Golius menerbitkan teks latin yang baru. Bersamaan dengan karya-karya tersebut, banyak ringkasan karya Al-Farghani yang beredar di kalangan saintis dan ini memberikan kontribusi bagi perkembangan pemikiran Al-Farghani di Eropa.
Kelak kemudian hari, The Elements of Astronomy diakui memang sebagai sebuah karya yang sangat berpengaruh. Seorang ilmuwan yang bernama Abd al-Aziz al-Qabisi memberikan komentar atas karya Al-Farghani tersebut, yang kemudian komentar Abd al-Aziz ini tersimpan di Istanbul sebagai manuskrip yang sangat berharga.
Manuskrip lainnya juga banyak bertebaran di berbagi perpustakaan yang ada di Eropa. Ini membuktikan pula bahwa pemikiran Al-Farghani menjadi acuan dalam perkembangan astronomi di Eropa. Aktivitas Al-Farghani tak melulu di bidang astronomi namun ia pun melebarkan aktivitasnya di bidang teknik.
Ini terbukti jika kita mengutip ucapan seorang ilmuwan yang bernama Ibn Tughri Birdi. Ia menyatakan, Al-Farghani pernah ikut dalam melakukan pengawasan pembangunan Great Nilometer, merupakan alat pengukur air, di Fustat atau Kairo Lama.
Bangunan tersebut rampung pada 861 bersamaan dengan meninggalnya Kalifah Al-Mutawwakil yang memerintahkan adanya pembangunan Nilometer tersebut. Tughri menyatakan bahwa semula Al-Farghani memang tak dilibatkan. Namun ia akhirnya terlibat juga karena harus melanjutkan tugas yang dibebankan kepada putra khalifah yaitu Musa Ibn Shakir, Muhamad dan Ahmad.
Ia harus melakukan pengawasan atas penggalian kanal yang dinamakan Kanal Al-Ja'fari di kota baru Al-Ja'fariyya, yang letaknya berdekatakan dengan Samaran di daerah Tigris. Al-Farghani saat itu memerintahkan penggalian kanal dengan membuat hulu kanal digali lebih dalam dibandingkan bagian lainnya.
Maka tak ada air yang cukup mengalir pada kanal tersebut kecuali pada saat permukaan air Sungai Tigris sedang pasang. Kebijakan Al-Farghani ini kemudian didengar oleh sang khalifah dan membuatnya marah. Namun hitungan Al-Farghani kemudian dibenarkan oleh seorang pakar teknik lainnya yang berpengaruh pula, yaitu Sind Ibn Ali.
Sind membenarkan perhitungan yang dilakukan oleh Al-Farghani. Paling tidak ini membuat khalifah menerima kebijakan tersebut. Dalam bidang teknik, Al-Farghani juga menelurkan karya dalam bentuk buku yaitu Kitab al-Fusul, Ikhtiyar al-Majisti, dan Kitab 'Amal al-Rukhamat.
@_@ Subhanalloh, keren kan ilmuwan kita? Walau sekarang nyatanya aku justru tidak berkecimpung dengan dunia yang ada hubungannya dengan astronomi dan teknik. Tapi, kita kan bisa jadi ilmuwan bidang apa saja yang bermanfaat bagi umat. Amiiin. Yuk, kita buat sejarah baru!
Jumat, 21 Agustus 2009
Marhaban Yaa Romadhon
written by Syofian Hadi
(taken from mate's sms)
Besok,
Nafas ini menjadi tasbih..
Tidur ini menjadi ibadah..
Doa ini diijabah..
Pahala ini dilipatgandakan..
Insya Alloh,
Besok,
kita mulai berjuang menggapai kemenangan..
Marhaban Yaa Romadhon..
Marhaban Yaa Syahru Syiam..
Mohon maaf lahir dan batin..
(taken from mate's sms)
Besok,
Nafas ini menjadi tasbih..
Tidur ini menjadi ibadah..
Doa ini diijabah..
Pahala ini dilipatgandakan..
Insya Alloh,
Besok,
kita mulai berjuang menggapai kemenangan..
Marhaban Yaa Romadhon..
Marhaban Yaa Syahru Syiam..
Mohon maaf lahir dan batin..
Senin, 17 Agustus 2009
Indonesia 64th Anniversary
Written by Syofian Hadi

Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Alhamdulillah, Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 64.
Merdeka!
Merdekalah saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, Indonesia tercinta!
Merdekalah dari penjajah! Penjajah moral, penjajah pendidikan, penjajah kesehatan, penjajah ekonomi, penjajah keamanan, penjajah..penjajah!
Jangan lagi ada anak negeri ini yang tidak bersekolah, diusir dari sekolah karena tak memiliki uang....
Jangan lagi ada rakyat negeri yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, diusir dari rumah sakit, lagi-lagi karena tidak memiliki uang....
Jangan lagi ada anak-anak yang menggelandang menyambung hidup dengan mengorbankan masa kanak-kanak mereka yang indah!
Jangan lagi ada yang kelaparan!
Jangan lagi ada pengangguran!
Jangan lagi ada pengemis di jalanan!
Jangan lagi ada yang mati sia-sia karena Narkoba!
Jangan lagi ada TKI tersiksa di negeri jauh sana!
Jangan lagi ada koruptor!
Jangan lagi ada bom!
Jangan! Jangan ada lagi!! Jangan! Hentikan!
Bukan aku tak bersyukur, justru aku sangat bersyukur atas keadaan Indonesia tercinta yang jauh lebih baik dibandingkan 64 tahun lalu. Namun, masih ada yang belum menikmati kemerdekaan ini dengan sepenuhnya, mereka memiliki berhak merasakan juga ’kan nikmat kemerdekaan negeri ini?
(.....................Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,maka penjajahan di atas dunia ini harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
.............................)
Ya Alloh, berikanlah kemerdekaan kepada saudara-saudara kami di Palestina. Merdeka Palestina!! Merdeka! Allohu akbar!!!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Alhamdulillah, Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 64.
Merdeka!
Merdekalah saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, Indonesia tercinta!
Merdekalah dari penjajah! Penjajah moral, penjajah pendidikan, penjajah kesehatan, penjajah ekonomi, penjajah keamanan, penjajah..penjajah!
Jangan lagi ada anak negeri ini yang tidak bersekolah, diusir dari sekolah karena tak memiliki uang....
Jangan lagi ada rakyat negeri yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, diusir dari rumah sakit, lagi-lagi karena tidak memiliki uang....
Jangan lagi ada anak-anak yang menggelandang menyambung hidup dengan mengorbankan masa kanak-kanak mereka yang indah!
Jangan lagi ada yang kelaparan!
Jangan lagi ada pengangguran!
Jangan lagi ada pengemis di jalanan!
Jangan lagi ada yang mati sia-sia karena Narkoba!
Jangan lagi ada TKI tersiksa di negeri jauh sana!
Jangan lagi ada koruptor!
Jangan lagi ada bom!
Jangan! Jangan ada lagi!! Jangan! Hentikan!
Bukan aku tak bersyukur, justru aku sangat bersyukur atas keadaan Indonesia tercinta yang jauh lebih baik dibandingkan 64 tahun lalu. Namun, masih ada yang belum menikmati kemerdekaan ini dengan sepenuhnya, mereka memiliki berhak merasakan juga ’kan nikmat kemerdekaan negeri ini?
(.....................Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,maka penjajahan di atas dunia ini harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
.............................)
Ya Alloh, berikanlah kemerdekaan kepada saudara-saudara kami di Palestina. Merdeka Palestina!! Merdeka! Allohu akbar!!!
Langganan:
Postingan (Atom)