THE SUCCESSFUL RECIPE FOR SNMPTN
Written by Mr. Syofian Hadi
Tomorrow is the turn for my students to struggle for their ideals through SNMPTN. Because of my love to you, I give you a THE SUCCESSFUL RECIPE FOR SNMPTN. Do this procedure well as you ever had done when you had a National Final Examination.
•Prepare all the materials
•Pour the flour of spirit in a bowl of heart
•Blend with a chocolate of knowledge and cheese of memorizing
•Then, add the sugar of Tawakal
•Do not forget to add the powder of enough rest
•Mix them until Istiqomah
•Cook the mixture with Tahajud
•Put optimism on it to make it more tasteful
•Pour into a plate of smile
•Now, it is ready to serve to your parents
(Inspirited from emq motivation)
You must do it. Because I am lazy to pray for u but I will always curse you so that you will get your passing. (Hahaha.. Just kidding). I quoted an advise from Aa Gym for you, “Alloh sometimes gives not by granting our wish because only Alloh who knows the disadvantage (mudhorot) if our wish is granted”.
I love you all.
"Happiness is to be shared. As we never know the moment when we exactly get our happiness, just share our today’s happiness!”
Selasa, 30 Juni 2009
Rabu, 24 Juni 2009
Yayan, Imam, Eka, dan Aku
Written by Syofian Hadi
“Saya terima nikahnya dengan mas kawin tersebut tunai!”
Alhamdulillah, lega rasanya saat aku mendengar dan menyaksikan sahabatku, Yayan Candra, menuturkannya dengan jelas saat menikahi Syahmona Ratu Pesagi.
“Sah! Sah!” sahut para saksi nikah.
Tegang, haru, bahagia bercampur jadi satu. Subhanalloh, sangat khidmat sekali.
Setelah salah satu sahabatku yang lain, Eka Seprianto, menikah pada oktober tahun lalu, kini giliran Yayan Candra yang menyempurnakan setengah diennya pada hari minggu 21 Juni lalu di desa Jagang, Blambangan Pagar, Lampung Utara.
Dulu, semasa SMA, kami selalu kompak berempat; Aku, Eka, Yayan, Imam. Aku mengenal Eka dari kecil sebelum SD. Yayan adalah siswa dari Baradatu pertama yang aku kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas 1 SMA, teman sebangku. Sedangkan Imam, aku kenal dari Yayan. Umur kami tidak terpaut jauh, Eka 34 hari lebih tua dariku, Imam lebih muda 1,5 bulan dariku, dan Yayan lebih muda 2 bulan dariku. Kami semua Muslim. Aku keturunan Pariaman, Eka keturunan Cina-Solo, Yayan Semendo-Jember, dan Imam Lampung Way Kanan. Meskipun dulu kami berbeda kelas hingga ke kelas 3 dan masing-masing dari kami sudah punya ‘teman perempuan’ (katakanlah begitu), kami tetap kompak. Pernah kami berceloteh bahwa yang akan menikah pertama tampaknya adalah Eka, yang kedua aku, kemudian Yayan, dan yang terakhir adalah imam. Entah mengapa saat itu kami memprediksi seperti itu. Benar kini Eka yang pertama, tapi ternyata bukan aku setelah Eka, melainkan Yayan, hehe, salah, lucu juga kalau diingat-ingat betapa anehnya kami dulu. Kami sempat sok merasa tampan seolah-olah kami adalah F4 (ef se’), kemudian sempat juga membentuk Band, ‘Mars’. Huahahaha. Pernah juga menyukai perempuan yang sama, halah! Walau banyak bermain, kami juga tetap berprestasi di kelas masing-masing lho, kami juga les bahasa Inggris dan komputer bersama.
Hingga kami berpencar kuliah; aku di FKIP Unila, Imam di FP Unila, Eka di FE Unila, Yayan di Poltekes Kotabumi, kami tetap kompak, meskipun kami telah mempunyai teman-teman baru dan memiliki prinsip dan sikap yang berbeda dalam memandang hidup dan pacaran, kami tetap kompak. Sesekali kami sempatkan untuk berkumpul, entah itu di Bandar Lampung, Bukit Kemuning, atau Baradatu. Apalagi masing-masing sudah punya handphone, tinggal kirim sms saja.
Aku sangat terharu, bukan sedih karena khawatir kami tidak bisa berkumpul lagi setelah mereka menikah karena kami yakin persahabatan kami tulus, insya Alloh akan tetap terjalin selalu, melainkan karena aku bangga dengan mereka yang yakin akan segala janji Alloh bagi meraka yang menikah. Sebentar lagi kami punya keponakan, Eka kini sedang menanti kelahiran buah hati. Aku? Sabar dhi.. Siapkan segalanya, terus berdoa. Alloh pasti sudah menyiapkan jika kau siap.
Yayan, Eka, Arianto sudah. Imam, Nurhadi, Wisnu, Sugeng, Agus, kita kapan? Tenang teman, masih banyak yang belum kok. Tapi kita harus tetap berlomba-lomba lho, menikah ’kan ibadah. Terus memperbaiki diri dan ikhtiar. Ketika menemukan yang baik tidak usah mengutamakan orang lain. Wah, aku pinter ya? Bukan, aku terinspirasi kata-kata Anna Althafunnisa kepada Cut Mala di Novel KCB, hehehehe.
My Brothers, I’ll never be able to forget every moment ever made together. Thanks a lot for sincere friendship you given to me!
“Saya terima nikahnya dengan mas kawin tersebut tunai!”
Alhamdulillah, lega rasanya saat aku mendengar dan menyaksikan sahabatku, Yayan Candra, menuturkannya dengan jelas saat menikahi Syahmona Ratu Pesagi.
“Sah! Sah!” sahut para saksi nikah.
Tegang, haru, bahagia bercampur jadi satu. Subhanalloh, sangat khidmat sekali.
Setelah salah satu sahabatku yang lain, Eka Seprianto, menikah pada oktober tahun lalu, kini giliran Yayan Candra yang menyempurnakan setengah diennya pada hari minggu 21 Juni lalu di desa Jagang, Blambangan Pagar, Lampung Utara.Dulu, semasa SMA, kami selalu kompak berempat; Aku, Eka, Yayan, Imam. Aku mengenal Eka dari kecil sebelum SD. Yayan adalah siswa dari Baradatu pertama yang aku kenal saat pertama kali menginjakkan kaki di kelas 1 SMA, teman sebangku. Sedangkan Imam, aku kenal dari Yayan. Umur kami tidak terpaut jauh, Eka 34 hari lebih tua dariku, Imam lebih muda 1,5 bulan dariku, dan Yayan lebih muda 2 bulan dariku. Kami semua Muslim. Aku keturunan Pariaman, Eka keturunan Cina-Solo, Yayan Semendo-Jember, dan Imam Lampung Way Kanan. Meskipun dulu kami berbeda kelas hingga ke kelas 3 dan masing-masing dari kami sudah punya ‘teman perempuan’ (katakanlah begitu), kami tetap kompak. Pernah kami berceloteh bahwa yang akan menikah pertama tampaknya adalah Eka, yang kedua aku, kemudian Yayan, dan yang terakhir adalah imam. Entah mengapa saat itu kami memprediksi seperti itu. Benar kini Eka yang pertama, tapi ternyata bukan aku setelah Eka, melainkan Yayan, hehe, salah, lucu juga kalau diingat-ingat betapa anehnya kami dulu. Kami sempat sok merasa tampan seolah-olah kami adalah F4 (ef se’), kemudian sempat juga membentuk Band, ‘Mars’. Huahahaha. Pernah juga menyukai perempuan yang sama, halah! Walau banyak bermain, kami juga tetap berprestasi di kelas masing-masing lho, kami juga les bahasa Inggris dan komputer bersama.
Hingga kami berpencar kuliah; aku di FKIP Unila, Imam di FP Unila, Eka di FE Unila, Yayan di Poltekes Kotabumi, kami tetap kompak, meskipun kami telah mempunyai teman-teman baru dan memiliki prinsip dan sikap yang berbeda dalam memandang hidup dan pacaran, kami tetap kompak. Sesekali kami sempatkan untuk berkumpul, entah itu di Bandar Lampung, Bukit Kemuning, atau Baradatu. Apalagi masing-masing sudah punya handphone, tinggal kirim sms saja. Aku sangat terharu, bukan sedih karena khawatir kami tidak bisa berkumpul lagi setelah mereka menikah karena kami yakin persahabatan kami tulus, insya Alloh akan tetap terjalin selalu, melainkan karena aku bangga dengan mereka yang yakin akan segala janji Alloh bagi meraka yang menikah. Sebentar lagi kami punya keponakan, Eka kini sedang menanti kelahiran buah hati. Aku? Sabar dhi.. Siapkan segalanya, terus berdoa. Alloh pasti sudah menyiapkan jika kau siap.
Yayan, Eka, Arianto sudah. Imam, Nurhadi, Wisnu, Sugeng, Agus, kita kapan? Tenang teman, masih banyak yang belum kok. Tapi kita harus tetap berlomba-lomba lho, menikah ’kan ibadah. Terus memperbaiki diri dan ikhtiar. Ketika menemukan yang baik tidak usah mengutamakan orang lain. Wah, aku pinter ya? Bukan, aku terinspirasi kata-kata Anna Althafunnisa kepada Cut Mala di Novel KCB, hehehehe.
My Brothers, I’ll never be able to forget every moment ever made together. Thanks a lot for sincere friendship you given to me!
Facebook-Ku
Written by Syofian Hadi
“oh, jadi sekarang loe dah punya facebook? Ga anti lagi?”
Itulah salah satu komentar dengan nada menyindir yang terlontar dari beberapa orang teman ketika mereka mengetahui aku mengaktifkan kembali facebook pribadiku.
Menurutku wajar mereka berkomentar seperti itu karena beberapa waktu lalu aku mendeactivekan facebook pribadiku dan tidak ingin sibuk di facebook seperti teman-teman lainnya walau sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kesertaanku di facebook, tapi aku tidak melakukannya hingga ada keterangan yang lebih menguatkan lagi.
Kini, teman-teman di friendster entah kemana, semua telah beralih ke facebook. Isu haram dan kontroversi facebook merebak di negeri ini. Aku terus mengikuti. Tapi tak satu pun yang dapat memantapkanku. Facebook sendiri tidak haram, tapi penggunaannya yang berlebihan yang membuatnya menjadi haram. Sama seperti ayam. Ayam halal, tetapi bila dipotong tidak dengan menyebut nama Alloh, ayam yang halal tadi menjadi haram untuk dimakan. Untuk yang ini aku setuju, friendster dan hal-hal lainnya juga bisa saja haram karena berlebihan, misalnya mengabaikan panggilan sholat karena asyik ber-facebook/friendster/blogger-ria. Tapi ini (facebook tidak haram) bukan satu-satunya aku jadikan alasan mengapa aku aktif kembali di facebook. Jujur, masih ada hal yang mengganjal pikiranku; benarkah pemilik facebook Mark Zuckerberg menyumbangkan pendapatannya pada pemerintah Israel untuk mendanai penyerangan Palestina?
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak yang jelas keberadaannya. Bila ada, akan aku deactive kembali, goodbye for good. Wallohu’alam.
“oh, jadi sekarang loe dah punya facebook? Ga anti lagi?”
Itulah salah satu komentar dengan nada menyindir yang terlontar dari beberapa orang teman ketika mereka mengetahui aku mengaktifkan kembali facebook pribadiku.
Menurutku wajar mereka berkomentar seperti itu karena beberapa waktu lalu aku mendeactivekan facebook pribadiku dan tidak ingin sibuk di facebook seperti teman-teman lainnya walau sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kesertaanku di facebook, tapi aku tidak melakukannya hingga ada keterangan yang lebih menguatkan lagi.
Kini, teman-teman di friendster entah kemana, semua telah beralih ke facebook. Isu haram dan kontroversi facebook merebak di negeri ini. Aku terus mengikuti. Tapi tak satu pun yang dapat memantapkanku. Facebook sendiri tidak haram, tapi penggunaannya yang berlebihan yang membuatnya menjadi haram. Sama seperti ayam. Ayam halal, tetapi bila dipotong tidak dengan menyebut nama Alloh, ayam yang halal tadi menjadi haram untuk dimakan. Untuk yang ini aku setuju, friendster dan hal-hal lainnya juga bisa saja haram karena berlebihan, misalnya mengabaikan panggilan sholat karena asyik ber-facebook/friendster/blogger-ria. Tapi ini (facebook tidak haram) bukan satu-satunya aku jadikan alasan mengapa aku aktif kembali di facebook. Jujur, masih ada hal yang mengganjal pikiranku; benarkah pemilik facebook Mark Zuckerberg menyumbangkan pendapatannya pada pemerintah Israel untuk mendanai penyerangan Palestina?
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak yang jelas keberadaannya. Bila ada, akan aku deactive kembali, goodbye for good. Wallohu’alam.
Jumat, 12 Juni 2009
Hajri, from Bukit Kemuning for BEM Unila
Written by Syofian Hadi
“TOMI-HAJRI MENANGKAN PEMIRA”
Headline buletin mahasiswa Universitas Lampung Teknokra edisi terbaru hari ini, Jumat 12 Juni 2009, langsung menjawab rasa penasaranku selama ini, karena Pemira ini berjalan tak selancar yang diharapkan. Walaupun begitu, terus terang aku bingung harus mengucapkan apa, apakah harus mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dahulu atau mengucapkan ‘innalillahi wainna ilaihi roji’uun’. Ah, aku ucapkan saja dua-duanya.
Kenapa aku begitu penasaran dan juga lega ketika mengetahui Tomi-Hajri memenangkan Pemilihan Raya (Pemira) Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM Unila) periode 2009/2010 dengan mengalahkan tiga pasangan lainnya?
Aku sebenarnya tidak begitu mengenal Tomi meskipun satu almamater di FKIP Unila, tapi yang aku kenal sekali dari pasangan ini adalah Hajriansyah. Hajri adalah adik kelasku waktu sekolah di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning, aku kelas 3 dia kelas 1. Kami juga pernah sama-sama aktif di Purna Paskibraka Bukit Kemuning, dan belakangan kami juga sama-sama berkecimpung di Forum Alumni Rohis (FARIS) SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. Ada suatu kebanggaan di hatiku. Pertama, alhamdulillah, ternyata Tomi-Hajri dipercaya oleh para pemilih. Kedua, karena Tomi berasal dari FKIP dan Hajri adalah alumni SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. Ketiga, berhubungan dengan isu yang terakhir berhembus mengenai SMA kami, ini pembuktian bahwa alumni kami juga memiliki kemampuan dan juga mampu bersaing. Yang aku tahu, sepertinya Hajri adalah satu-satunya alumni SMA kami yang berhasil menjadi pimpinan di level Universitas, meskipun hanya Wakil Presiden. Semoga ini memacu alumni-alumni yang lain untuk tetap terus mengembangkan diri.
Hmm, dari semua ceritaku di atas sepertinya aku sudah tidak objective lagi. Memang benar itu. Aku akui, karena kalau secara subjective, aku justru bingung pasangan capres-wapres mana yang layak untuk BEM Unila ini karena aku yakin semua kandidat pasti memiliki kemampuan masing-masing. Mungkin semua layak. Oleh karena itu, alasan kebahagiaanku memang bukan dari sisi objective. Kebahagiannku hari ini lebih kurang bagaikan kebahagiaan rakyat Indonesia yang bergembira atas kemenangan Obama saat pemilu presiden Amerika yang hanya lebih dikarenakan Obama pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia beberapa tahun saja. Tapi aku akui, yang aku kenal, Hajri memang anak yang berakhlak baik dan cerdas. Buktinya meraka terpilih. (Hwehehe,teuteuup.. Peace ah!)
Pro-Kontra, kericuhan, kerusahan, dan masalah-masalah lainnya yang mengiringi Pemira ini semoga tidak berlarut-larut, semoga dapat dijadikan pelajaran agar dapat menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Mungkin sudah banyak bermacam doa dan harapan yang disampaikan untuk Tomi-Hajri. Aku hanya berdoa dan berharap, semoga selama kepemimpinan Tomi-Hajri satu tahun mendatang tidak ada masalah-masalah baru, tapi justru memuncul begitu banyak prestasi-prestasi baru dan luar biasa. Amiiin.
Semangat TOHA! Allohu akbar!
Jadi keinget sms kampanye dari salah seorang teman:
Mendayung perahu hingga ke hulu
Mencari putra mahkota raja dan ratu
Jika mau BEM Unila maju
Maka pilihlah paket satu
“TOMI-HAJRI MENANGKAN PEMIRA”
Headline buletin mahasiswa Universitas Lampung Teknokra edisi terbaru hari ini, Jumat 12 Juni 2009, langsung menjawab rasa penasaranku selama ini, karena Pemira ini berjalan tak selancar yang diharapkan. Walaupun begitu, terus terang aku bingung harus mengucapkan apa, apakah harus mengucapkan ‘Alhamdulillah’ dahulu atau mengucapkan ‘innalillahi wainna ilaihi roji’uun’. Ah, aku ucapkan saja dua-duanya.
Kenapa aku begitu penasaran dan juga lega ketika mengetahui Tomi-Hajri memenangkan Pemilihan Raya (Pemira) Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM Unila) periode 2009/2010 dengan mengalahkan tiga pasangan lainnya?
Aku sebenarnya tidak begitu mengenal Tomi meskipun satu almamater di FKIP Unila, tapi yang aku kenal sekali dari pasangan ini adalah Hajriansyah. Hajri adalah adik kelasku waktu sekolah di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning, aku kelas 3 dia kelas 1. Kami juga pernah sama-sama aktif di Purna Paskibraka Bukit Kemuning, dan belakangan kami juga sama-sama berkecimpung di Forum Alumni Rohis (FARIS) SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. Ada suatu kebanggaan di hatiku. Pertama, alhamdulillah, ternyata Tomi-Hajri dipercaya oleh para pemilih. Kedua, karena Tomi berasal dari FKIP dan Hajri adalah alumni SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. Ketiga, berhubungan dengan isu yang terakhir berhembus mengenai SMA kami, ini pembuktian bahwa alumni kami juga memiliki kemampuan dan juga mampu bersaing. Yang aku tahu, sepertinya Hajri adalah satu-satunya alumni SMA kami yang berhasil menjadi pimpinan di level Universitas, meskipun hanya Wakil Presiden. Semoga ini memacu alumni-alumni yang lain untuk tetap terus mengembangkan diri.Hmm, dari semua ceritaku di atas sepertinya aku sudah tidak objective lagi. Memang benar itu. Aku akui, karena kalau secara subjective, aku justru bingung pasangan capres-wapres mana yang layak untuk BEM Unila ini karena aku yakin semua kandidat pasti memiliki kemampuan masing-masing. Mungkin semua layak. Oleh karena itu, alasan kebahagiaanku memang bukan dari sisi objective. Kebahagiannku hari ini lebih kurang bagaikan kebahagiaan rakyat Indonesia yang bergembira atas kemenangan Obama saat pemilu presiden Amerika yang hanya lebih dikarenakan Obama pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia beberapa tahun saja. Tapi aku akui, yang aku kenal, Hajri memang anak yang berakhlak baik dan cerdas. Buktinya meraka terpilih. (Hwehehe,teuteuup.. Peace ah!)
Pro-Kontra, kericuhan, kerusahan, dan masalah-masalah lainnya yang mengiringi Pemira ini semoga tidak berlarut-larut, semoga dapat dijadikan pelajaran agar dapat menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Mungkin sudah banyak bermacam doa dan harapan yang disampaikan untuk Tomi-Hajri. Aku hanya berdoa dan berharap, semoga selama kepemimpinan Tomi-Hajri satu tahun mendatang tidak ada masalah-masalah baru, tapi justru memuncul begitu banyak prestasi-prestasi baru dan luar biasa. Amiiin.
Semangat TOHA! Allohu akbar!
Jadi keinget sms kampanye dari salah seorang teman:
Mendayung perahu hingga ke hulu
Mencari putra mahkota raja dan ratu
Jika mau BEM Unila maju
Maka pilihlah paket satu
Senin, 08 Juni 2009
GURU IDOL, Me!
Written by Syofian Hadi
Guru Idol? Aku langsung teringat dengan kontes ajang mencari penyanyi baru "Indonesian Idol" saat melihat pamflet seminar nasional pendidikan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusana Ilmu Pendidikan (HIMAJIP) FKIP Universitas Lampung ini, karena warna dan font yang digunakan pada logo Guru Idol ini hampir sama persis dengan logo Indonesian Idol.
“GURU IDOL”
MENJADI GURU YANG PROFESIONAL BERDEDIKASI TINGGI DAN DICINTAI ANAK DIDIK
Begitulah temanya. Tema umumnya mungkin sudah cukup sering diangkat. Tapi ‘Guru Idol’ sangat menarik perhatianku, aku menjadi bertanya-tanya sendiri seperti apakah guru idol itu. Tema yang seperti ini memang jarang sekali diangkat dalam sebuah seminar pendidikan. Lagi pula, bagaimana tidak menarik, pada pamflet tersebut tertulis nama Ketua MPR RI DR. H.M Hidayat Nurwahid, MA. sebagai keynote speaker. Ketiga pembicaranya pun juga tak kalah menarik, yaitu:
1. Dr. Sulistyo, M.Pd. (Ketua Umum PGRI Pusat)
2. Ir. Johnson Napitupulu, M.Sc. (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung)
3. Dr. Undang Rosidin, M.Pd. (Dosen dan Ketua Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung)
Karena rasa penasaranku yang sangat besar mengenai ‘Guru Idol’ ini, aku putuskan untuk mengikuti seminar ini, aku juga ingin menjadi guru idola yang diidolakan oleh semua siswaku kelak.
Tapi sayang, semangatku yang menggebu-gebu menjadi agak sedikit menurun. Karena pada hari H kemarin, Minggu 7 Juni 2009, ternyata tidak 100% sesuai dengan apa yang dipromosikan sebelumnya; keynote speaker dan dua pembicara yaitu DR. H.M Hidayat Nurwahid, MA., Dr. Sulistyo, M.Pd., dan Ir. Johnson Napitupulu, M.Sc. berhalangan hadir. Hanya Dr. Undang Rosidin, M.Pd., yang tidak berhalangan. Kedua pembicara yang berhalangan hadir tersebut digantikan oleh Wakil Ketua PGRI Provinsi Lampung Dra. Hj. Maysari Berty, M.Sc., dan Kabid. Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Dr. Khaidarmansyah, SH., M.Pd.
Yang menjadi pembicara pertama adalah Ibu Dra. Hj. Maysari Berty, M.Sc. Beliau menjelaskan latar belakang dan berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan seperti rendahnya kualitas pendidikan yang tidak dapat terlepas dari rendahnya kualitas para pendidik. Menurut beliau, guru harus memenuhi kriteria guru profesional, berdedikasi tinggi, dan mencintai anak didik dengan cara memahami dimensi dan model pembelajaran.
Pembicara kedua adalah Bapak Dr. Khaidarmansyah, SH., M.Pd. Menurut beliau, guru merupakan salah satu komponen pendidikan. Oleh karena itu, sesuai dengan UU Guru dan Dosen No. 14 / 2005, guru harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik, dan menguasai kompotensi bidangnya. Sehingga guru yang profesional dan bermutu akan menjadi idola dan dicintai oleh anak didiknya.
Pembicara yang ketiga adalah Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd. Beliau menjelaskan mengenai hal-hal yang disenangi dan tidak disenangi para siswa. Guru idola harus memiliki 3 H, yaitu:
1. Head; memiliki kompetensi, wawasan luas dan inovasi.
2. Heart; melaksanakan tugas dengan “hati” (berempati, penuh kehangatan, memahami dan mengenal kepribadian anak).
3. Hand; memiliki keterbukaan dan sifat humoris sehingga anak termotivasi untuk belajar.
Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh ketiga pembicara, aku menobatkan Pak Undang sebagai ‘Pembicara Idol’. Penjelasan beliau sangat tepat sasaran dan sesuai dengan tema yang aku tunggu-tunggu.

Kesimpulanku, guru yang diidolakan semestinya harus memiliki kriteria profesional, standar kompetensi yang lengkap, dan mengenal pribadi anak. Meskipun pada kenyataannya guru yang diidolakan siswa belum tentu memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Guru yang ramah, ramai, gaul, pintar, lucu, memberi kelonggaran dan kebebasan biasanya diidolakan oleh para siswa ketimbang guru yang profesional dan tegas dalam menegakkan kedisiplinan, meskipun para guru tersebut memiliki kriteria profesional dan bisa dikatakan pintar. Jadi, guru idola belum tentu guru yang memenuhi kriteria keprofesionalan guru, sebaliknya guru profesional belum tentu diidolakan para siswa.
Ambil contoh saja kontes ajang mencari penyanyi baru Indonesian Idol, tidak semua pemenang Indonesian Idol memenuhi kriteria penyanyi profesional, meskipun para juri telah mengkritik atau menyatakan bahwa penampilan kontestan tersebut tidak bagus atau tidak layak, tetapi jika para penonton suka sehingga pooling sms-nya teratas, maka dia akan tetap dinobatkan menjadi idol. Begitu juga sebaliknya, kontestan yang memenuhi kriteria penyanyi profesional belum tentu disukai para penonton, meskipun para juri telah menilai baik dan memuji penampilannya, karena para penonton tidak menyukainya sehingga poolingnya sms-nya rendah, maka kontestan tersebut gagal meraih gelar idol. Kontes ini hanya mengacu pada pooling sms karena rasa suka dan tidak suka para penonton
Jadi menurut saya, mari kita menjadi guru ideal, yaitu guru yang profesional dan diidolakan. Perlu usaha, pembelajaran, dan kesabaran untuk mencapai ideal ini. Mari kita terapkan rumus 3H dari Pak Undang; HEAD, HEART, HAND MAKE IDEAL.
Akhirnya semua kekurangpuasanku terhadap kinerja panitia penyelenggara terbayar dengan penyajian materi dan dialog dari ketiga pembicara tersebut, cukup memuaskan. Aku menjadi lupa bahwa aku tidak diberi blocknote dengan alasan kehabisan, aku lupa bahwa Pak Hidayat Nurwahid dan kedua pembicara lainnya berhalangan hadir, aku lupa semua isi janji di pamflet yang aku lihat bebrapa waktu lalu, apalagi ketika aku disungguhkan makan siang yang aku tunggu dengan cukup lama tanpa air minum pun tidak aku ambil pusing, yang aku ingat adalah “Ya, aku adalah seorang guru, guru ideal adalah aku!”. Insya Alloh.
Guru Idol? Aku langsung teringat dengan kontes ajang mencari penyanyi baru "Indonesian Idol" saat melihat pamflet seminar nasional pendidikan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusana Ilmu Pendidikan (HIMAJIP) FKIP Universitas Lampung ini, karena warna dan font yang digunakan pada logo Guru Idol ini hampir sama persis dengan logo Indonesian Idol.
“GURU IDOL”MENJADI GURU YANG PROFESIONAL BERDEDIKASI TINGGI DAN DICINTAI ANAK DIDIK
Begitulah temanya. Tema umumnya mungkin sudah cukup sering diangkat. Tapi ‘Guru Idol’ sangat menarik perhatianku, aku menjadi bertanya-tanya sendiri seperti apakah guru idol itu. Tema yang seperti ini memang jarang sekali diangkat dalam sebuah seminar pendidikan. Lagi pula, bagaimana tidak menarik, pada pamflet tersebut tertulis nama Ketua MPR RI DR. H.M Hidayat Nurwahid, MA. sebagai keynote speaker. Ketiga pembicaranya pun juga tak kalah menarik, yaitu:
1. Dr. Sulistyo, M.Pd. (Ketua Umum PGRI Pusat)
2. Ir. Johnson Napitupulu, M.Sc. (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung)
3. Dr. Undang Rosidin, M.Pd. (Dosen dan Ketua Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung)
Karena rasa penasaranku yang sangat besar mengenai ‘Guru Idol’ ini, aku putuskan untuk mengikuti seminar ini, aku juga ingin menjadi guru idola yang diidolakan oleh semua siswaku kelak.
Tapi sayang, semangatku yang menggebu-gebu menjadi agak sedikit menurun. Karena pada hari H kemarin, Minggu 7 Juni 2009, ternyata tidak 100% sesuai dengan apa yang dipromosikan sebelumnya; keynote speaker dan dua pembicara yaitu DR. H.M Hidayat Nurwahid, MA., Dr. Sulistyo, M.Pd., dan Ir. Johnson Napitupulu, M.Sc. berhalangan hadir. Hanya Dr. Undang Rosidin, M.Pd., yang tidak berhalangan. Kedua pembicara yang berhalangan hadir tersebut digantikan oleh Wakil Ketua PGRI Provinsi Lampung Dra. Hj. Maysari Berty, M.Sc., dan Kabid. Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Dr. Khaidarmansyah, SH., M.Pd.
Yang menjadi pembicara pertama adalah Ibu Dra. Hj. Maysari Berty, M.Sc. Beliau menjelaskan latar belakang dan berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan seperti rendahnya kualitas pendidikan yang tidak dapat terlepas dari rendahnya kualitas para pendidik. Menurut beliau, guru harus memenuhi kriteria guru profesional, berdedikasi tinggi, dan mencintai anak didik dengan cara memahami dimensi dan model pembelajaran.
Pembicara kedua adalah Bapak Dr. Khaidarmansyah, SH., M.Pd. Menurut beliau, guru merupakan salah satu komponen pendidikan. Oleh karena itu, sesuai dengan UU Guru dan Dosen No. 14 / 2005, guru harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik. Guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik, dan menguasai kompotensi bidangnya. Sehingga guru yang profesional dan bermutu akan menjadi idola dan dicintai oleh anak didiknya.
Pembicara yang ketiga adalah Bapak Dr. Undang Rosidin, M.Pd. Beliau menjelaskan mengenai hal-hal yang disenangi dan tidak disenangi para siswa. Guru idola harus memiliki 3 H, yaitu:
1. Head; memiliki kompetensi, wawasan luas dan inovasi.
2. Heart; melaksanakan tugas dengan “hati” (berempati, penuh kehangatan, memahami dan mengenal kepribadian anak).
3. Hand; memiliki keterbukaan dan sifat humoris sehingga anak termotivasi untuk belajar.
Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh ketiga pembicara, aku menobatkan Pak Undang sebagai ‘Pembicara Idol’. Penjelasan beliau sangat tepat sasaran dan sesuai dengan tema yang aku tunggu-tunggu.
Kesimpulanku, guru yang diidolakan semestinya harus memiliki kriteria profesional, standar kompetensi yang lengkap, dan mengenal pribadi anak. Meskipun pada kenyataannya guru yang diidolakan siswa belum tentu memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Guru yang ramah, ramai, gaul, pintar, lucu, memberi kelonggaran dan kebebasan biasanya diidolakan oleh para siswa ketimbang guru yang profesional dan tegas dalam menegakkan kedisiplinan, meskipun para guru tersebut memiliki kriteria profesional dan bisa dikatakan pintar. Jadi, guru idola belum tentu guru yang memenuhi kriteria keprofesionalan guru, sebaliknya guru profesional belum tentu diidolakan para siswa.
Ambil contoh saja kontes ajang mencari penyanyi baru Indonesian Idol, tidak semua pemenang Indonesian Idol memenuhi kriteria penyanyi profesional, meskipun para juri telah mengkritik atau menyatakan bahwa penampilan kontestan tersebut tidak bagus atau tidak layak, tetapi jika para penonton suka sehingga pooling sms-nya teratas, maka dia akan tetap dinobatkan menjadi idol. Begitu juga sebaliknya, kontestan yang memenuhi kriteria penyanyi profesional belum tentu disukai para penonton, meskipun para juri telah menilai baik dan memuji penampilannya, karena para penonton tidak menyukainya sehingga poolingnya sms-nya rendah, maka kontestan tersebut gagal meraih gelar idol. Kontes ini hanya mengacu pada pooling sms karena rasa suka dan tidak suka para penonton
Jadi menurut saya, mari kita menjadi guru ideal, yaitu guru yang profesional dan diidolakan. Perlu usaha, pembelajaran, dan kesabaran untuk mencapai ideal ini. Mari kita terapkan rumus 3H dari Pak Undang; HEAD, HEART, HAND MAKE IDEAL.
Akhirnya semua kekurangpuasanku terhadap kinerja panitia penyelenggara terbayar dengan penyajian materi dan dialog dari ketiga pembicara tersebut, cukup memuaskan. Aku menjadi lupa bahwa aku tidak diberi blocknote dengan alasan kehabisan, aku lupa bahwa Pak Hidayat Nurwahid dan kedua pembicara lainnya berhalangan hadir, aku lupa semua isi janji di pamflet yang aku lihat bebrapa waktu lalu, apalagi ketika aku disungguhkan makan siang yang aku tunggu dengan cukup lama tanpa air minum pun tidak aku ambil pusing, yang aku ingat adalah “Ya, aku adalah seorang guru, guru ideal adalah aku!”. Insya Alloh.
Latah! Eh, Latah!
Written by Syofian Hadi
Dorr..dor..dor..ee..e.dor..dor..ee..!
Itulah teriakan latah Sanae, mahasiswa Fakultas Kedokteran Malahayati, ketika dikejutkan oleh salah seorang temannya. Dorr!!
“Sanae Lompat!”, teriak salah satu temannya. Sanae pun spontan langsung lompat-lompat seolah-olah terhipnotis oleh ucapan temannya tersebut.
Apa sih Latah itu?
Menurut wikipedia, latah merupakan suatu gejala psikologis yang hanya dikenal pada sistem budaya tertentu. Latah tidak bisa dianggap kebiasaan sepele yang tak ada kaitannya dengan penyakit. Latah berhubungan erat dengan dimensi gangguan jiwa, fungsi syaraf, psikologis dan sosial.
Secara geografis, kawasan Asia Tenggara berada pada peringkat pertama dengan jumlah penderita latah terbanyak. Selain Indonesia, penderita latah juga ditemukan pada beberapa suku di Jepang dan Prancis.
Walaupun tidak sepenuhnya tepat, disinyalir bahwa penyakit ini tumbuh dan berkembang di masyarakat yang menerapkan budaya otoriter dan penderitanya biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah dan berada pada kelas ekonomi bawah. Jadi dapat disimpulkan bahwa latah adalah gejala psikologis untuk kaum proletar, berbeda dengan “penyakit elit” yang biasanya diidap kaum borjuis seperti kanker, serangan jantung atau gangguan hati.
Ada dua jenis latah yang dikenal, latah tindakan dan latah verbal.
Latah verbal, menurut wikipedia dibedakan menjadi 2 jenis.
Echolalia, ketika kaget penderita mengulang perkataan lawan bicara tanpa mengubah konteks kata/kalimat. Berasal dari kata Yunani, “Echo” yang mempunyai arti “mengulang”.
Coprolalia, ketika kaget penderita merespon dengan mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata tak senonoh. Berasal dari sebuah kata Yunani, “Coprol” yang mempunyai arti “feces/kotoran”.
Dari sebuah referensi, latah jenis Coprolalia adalah pembuktian dari teori Sigmund Freud (bapak psikologi modern), yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk dengan instink kebinatangan. Perubahan emosi secara tiba-tiba, bisa menjadi trigger dan impulse untuk membangunkan instink tersebut.
Latah tindakan, dibedakan menjadi 2 jenis. yaitu Ekopraksia meniru gerakan orang lain dan Automatic Obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut). Misalnya, ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti “sujud” atau “peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Latah disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa teori menyebutkan:
Teori pemberontakan, karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk melakukan sesuatu. Masa lalu yang selalu dikungkung dan dilarang juga bisa dimasukkan kategori ini.
Teori kecemasan, adanya tokoh otoriter di balik layar. Dominasi tokoh yang dekat secara psikologi, tidak harus dalam lingkungan keluarga, bisa menjadi penyebab latah.
Teori pengkondisian, dalam bahasa sederhana disebut ikut-ikutan (trend-follower). Sebagai aktualisasi untuk mencari perhatian dari lingkungannya.
That’s what I got from http://riky.kurniawan.us/idea/latah/
Tapi, orang Indonesia ‘kan dari dulu memang suka latah. Ada yang latah sama bahasa anak-anak gaul; ‘sumpe loe’, ‘ya..iya lah..masa ya..iya..donk’, langsung latah ikut-ikutan menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari. Ada yang latah sama mode; muncul model pakaian, gaya rambut, atau gaya-gaya lainnya dari luar negeri, langsung latah ikut-ikutan. Ada yang latah sama barang teknologi baru; BlackBerry lagi ‘in’, langsung juga latah buat beli dan harus punya. Ada yang latah sama orang-orang yang punya kursi di DPR; rame-rame latah pada jadi caleg, it’s okay sich asal pas gagal gak ikut-ikutan latah stress, hehehe..!
Dorr..dor..dor..ee..e.dor..dor..ee..!
Itulah teriakan latah Sanae, mahasiswa Fakultas Kedokteran Malahayati, ketika dikejutkan oleh salah seorang temannya. Dorr!!
“Sanae Lompat!”, teriak salah satu temannya. Sanae pun spontan langsung lompat-lompat seolah-olah terhipnotis oleh ucapan temannya tersebut.
Apa sih Latah itu?
Menurut wikipedia, latah merupakan suatu gejala psikologis yang hanya dikenal pada sistem budaya tertentu. Latah tidak bisa dianggap kebiasaan sepele yang tak ada kaitannya dengan penyakit. Latah berhubungan erat dengan dimensi gangguan jiwa, fungsi syaraf, psikologis dan sosial.
Secara geografis, kawasan Asia Tenggara berada pada peringkat pertama dengan jumlah penderita latah terbanyak. Selain Indonesia, penderita latah juga ditemukan pada beberapa suku di Jepang dan Prancis.
Walaupun tidak sepenuhnya tepat, disinyalir bahwa penyakit ini tumbuh dan berkembang di masyarakat yang menerapkan budaya otoriter dan penderitanya biasanya orang tua, perempuan, berpendidikan rendah dan berada pada kelas ekonomi bawah. Jadi dapat disimpulkan bahwa latah adalah gejala psikologis untuk kaum proletar, berbeda dengan “penyakit elit” yang biasanya diidap kaum borjuis seperti kanker, serangan jantung atau gangguan hati.
Ada dua jenis latah yang dikenal, latah tindakan dan latah verbal.
Latah verbal, menurut wikipedia dibedakan menjadi 2 jenis.
Echolalia, ketika kaget penderita mengulang perkataan lawan bicara tanpa mengubah konteks kata/kalimat. Berasal dari kata Yunani, “Echo” yang mempunyai arti “mengulang”.
Coprolalia, ketika kaget penderita merespon dengan mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata tak senonoh. Berasal dari sebuah kata Yunani, “Coprol” yang mempunyai arti “feces/kotoran”.
Dari sebuah referensi, latah jenis Coprolalia adalah pembuktian dari teori Sigmund Freud (bapak psikologi modern), yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk dengan instink kebinatangan. Perubahan emosi secara tiba-tiba, bisa menjadi trigger dan impulse untuk membangunkan instink tersebut.
Latah tindakan, dibedakan menjadi 2 jenis. yaitu Ekopraksia meniru gerakan orang lain dan Automatic Obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut). Misalnya, ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti “sujud” atau “peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Latah disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa teori menyebutkan:
Teori pemberontakan, karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk melakukan sesuatu. Masa lalu yang selalu dikungkung dan dilarang juga bisa dimasukkan kategori ini.
Teori kecemasan, adanya tokoh otoriter di balik layar. Dominasi tokoh yang dekat secara psikologi, tidak harus dalam lingkungan keluarga, bisa menjadi penyebab latah.
Teori pengkondisian, dalam bahasa sederhana disebut ikut-ikutan (trend-follower). Sebagai aktualisasi untuk mencari perhatian dari lingkungannya.
That’s what I got from http://riky.kurniawan.us/idea/latah/
Tapi, orang Indonesia ‘kan dari dulu memang suka latah. Ada yang latah sama bahasa anak-anak gaul; ‘sumpe loe’, ‘ya..iya lah..masa ya..iya..donk’, langsung latah ikut-ikutan menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari. Ada yang latah sama mode; muncul model pakaian, gaya rambut, atau gaya-gaya lainnya dari luar negeri, langsung latah ikut-ikutan. Ada yang latah sama barang teknologi baru; BlackBerry lagi ‘in’, langsung juga latah buat beli dan harus punya. Ada yang latah sama orang-orang yang punya kursi di DPR; rame-rame latah pada jadi caleg, it’s okay sich asal pas gagal gak ikut-ikutan latah stress, hehehe..!
Sabtu, 06 Juni 2009
The Winners of Dual Story Telling - ESo Festival 2009
v.jpg)
ESo FESTIVAL (E-Fest) 2009
ENGLISH SOCIETY OF LAMPUNG UNIVERSITY
DUAL STORY TELLING WINNERS
May 30th and 31st, 2009
Written by Syofian Hadi
Here are the winners for Dual Story Telling in ESo Festival (E-Fest) 2009 by English Society (ESo) of Lampung University.
Congratulation for all participants.
1st Winner : STAIN Jurai Siwo Metro A
- Andi Setiawan
- Etika Lisyana Dewi
Title: Dream, Success, Forget, and Die
1st Runner Up :
- Dede Jihan Rasika
- Riska Gustiani
Title: The Princess Frog
2nd Runner Up : STAIN Jurai Siwo Metro B
- Hasanul Misbah
- Yeni Suprihatin
The Judges:
Mr. Syofian Hadi
Mr. Habi Septiawan
Ms. Delia
Langganan:
Postingan (Atom)